Proses ekshumasi di TPU Bangunrejo, Desa Saradan, Karangmalang, Sragen, Jawa Tengah, ini untuk kepentingan otopsi ulang guna mengetahui penyebab pasti meninggalnya korban.
Menurut pantauan di lokasi, ekshumasi berlangsung sejak pukul 13.00–16.15 WIB. Proses otopsi ditangani oleh oleh tim Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Kepolisian Daerah (Polda) Jateng.
Kabid Dokkes Polda Jateng Kombes Pol drg Agustinus, tim melibatkan satu dokter forensik utama, dibantu dokter dari Universitas Diponegoro, Universitas Islam Sultan Agung Semarang, dan Universitas Negeri Sebelas Maret Solo.
Otopsi tersebut, terang Agustinus, guna mengumpulkan alat bukti dari penyebab pasti kematian korban. "Fokusnya jelas, kalau otopsi itu kan mencari sebab kematian saja," ungkapnya.
Menurut Agustinus, hasil otopsi diperkirakan keluar pada Sabtu (30/11/2024), kemudian diserahkan kepada penyidik untuk membantu proses penyidikan.
Setelah proses otopsi selesai, jenazah langsung dimakamkan kembali yang disaksikan pihak keluarga dan warga sekitar.
Siman, kakek korban yang turut hadir pada proses eksumasi, saat dikonfirmasi mengaku baru mengetahui sang cucu meninggal lantaran ditembak polisi. "Kalau ditembak belum tahu,” ucap Siman, Jumat (29/11/2024).
Menurut informasi yang diperoleh Siman dan keluarga, korban meninggal akibat dibegal. “Meninggalnya katanya begal, saya tidak tahu. Kita tidak tahu masalahnya apa," ujarnya.
Saat ditanya terkait kondisi jenazah saat tiba di rumah duka, Siman mengatakan, jenazah telah dibungkus kain kafan.
"Waktu dibuka sudah ditata rapi, sudah dikafani seperti orang meninggal, kondisi perut belum tahu," terang Siman.
Ketika itu, jelas Siman, baru melihat wajah korban, untuk mengetahui apakah benar cucunya tau bukan. Karena itu, Siman tidak mengetahui adanya luka tembak di bagian pinggul.
Sementara itu, Diah Pitasari, bude korban yang juga menyaksikan proses eksumasi mengatakan, mulanya keluarga mengaku ikhlas karena sadar memperpanjang masalah tidak akan mengembalikan nyawa korban.
Namun, belakangan justru korban disudutkan. "Semakin ke sini seakan-akan menyudutkan Gamma. Gamma yang gangster lah, membawa senjata tajam,” terangnya.
Untuk itu, ungkap Diah, saat ini keluarga berjuang untuk mengembalikan nama baik korban. “Kalau mengembalikan nyawa memang tidak bisa, mengembalikan nama baik Gamma insyaallah kita bisa," tuturnya.
Sebagai informasi, kronologi meninggalnya anggota paskibraka yang tewas ditembak Aipda Robig Zaenudin, Minggu (24/11/2024), ini masih belum diketahui pasti.
Pernyataan pihak berwajib yang mengatakan penyebab polisi tembak pelajar SMK tersebut karena terlibat tawuran dan merupakan anggota Gangster Tanggul Pojok dibantah banyak pihak.
Dari satpam yang berjaga di lokasi kejadian, para sahabat, hingga guru dan sekolah tempat korban menuntut ilmu. (*)
Editor : Almasrifah