Berdasarkan informasi yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) gempa terkini tersebut merupakan jenis gempa menengah yang terjadi akibat deformasi batuan dalam lempeng Laut Banda.
"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki mekanisme pergerakan geser (strike-slip)," kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono.
Menurut Daryono, dari analisis lebih lanjut, kedalaman gempa mencapai 149 km dan episenternya berada pada koordinat 6,32° derajat Lintang Selatan dan 130,43° derajat Bujur Timur dengan kedalaman 141 km.
Lokasi episenter gempa Tanimbar terletak di laut, sekitar 207 kilometer (km) arah Barat Laut Tanimbar, Maluku.
Peta guncangan atau shakemap yang dirilis BMKG menunjukkan dampak gempa di beberapa daerah. Di Amahai, Maluku Tengah, getaran dirasakan dengan skala intensitas II - III MMI, yang berarti "getaran dirasakan nyata dalam rumah, terasa seakan-akan truk berlalu."
Di Wer Maktian, Maluku Tenggara Barat, guncangan serupa juga terjadi dengan skala intensitas II - III MMI.
Sementara itu, di Dawelor Dawera, Maluku Barat Daya, getaran dirasakan dengan skala intensitas II MMI, yang berarti "getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang."
Namun, Daryono memastikan, hingga saat ini belum ada laporan kerusakan signifikan yang disebabkan oleh gempa tersebut. "Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," ujarnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
"Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal Anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum Anda kembali ke dalam rumah," kata Daryono.
Ia juga memberikan imbauan kepada masyarakat agar tetap waspada dan memeriksa kondisi bangunan mereka sebelum melanjutkan aktivitas di dalamnya. (*)
Editor : Almasrifah