KALTIMPOST.ID, Kontroversi terkait pembatalan pameran seni Yos Suprapto di Galeri Nasional Indonesia terus memanas.
Seniman senior asal Yogyakarta itu melayangkan kritik tajam kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon, yang menilai karya seni Yos sebagai bentuk ungkapan politik yang tendensius.
“Kalau Fadli Zon mengatakan itu adalah ungkapan politik yang tendensius, berarti dia tidak paham dengan bahasa seni atau bahasa budaya. Lebih baik dia tidak perlu menjadi Menteri Kebudayaan,” ujar Yos dalam konferensi pers di Kantor LBH Jakarta.
Baca Juga: Dari Pembatalan Pameran Lukisan Yos Suprapto: Karya Seni Dibungkam, Tanda-Tanda Orde Baru Jilid Dua?
Yos Suprapto menegaskan bahwa Fadli Zon tidak memiliki landasan yang cukup untuk memberikan penilaian terhadap karyanya.
Pasalnya, politisi Partai Gerindra itu tidak pernah melihat langsung lukisan-lukisan yang menjadi polemik maupun berdialog dengannya sebagai seniman.
“Dia tidak bisa melihat aslinya seperti apa. Dan dia tidak pernah berdialog dengan senimannya,” tegas Yos.
Lima dari 30 karya Yos yang seharusnya dipamerkan dalam pameran tunggal bertajuk “Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan” di Galeri Nasional Indonesia dipermasalahkan oleh pihak kurator.
Dua di antaranya bahkan ditutup kain hitam. Akibatnya, pameran yang dijadwalkan berlangsung dari 19 Desember 2024 hingga 19 Januari 2025 tersebut ditunda tanpa batas waktu.
Lukisan “Raja Jawa” Jadi Pusat Perdebatan
Salah satu karya Yos yang menjadi sorotan adalah lukisan berjudul “Raja Jawa”. Lukisan ini menggambarkan seorang raja duduk di singgasana dengan kaki menginjak beberapa orang.
Menurut Yos, karya tersebut adalah refleksi kondisi sosial di Indonesia saat ini. “Apakah itu bukan simbol, menyindir, marah? Tidak.
Itu fakta objektif yang saya rangkum untuk menggambarkan kondisi sosial dan budaya di Indonesia saat ini,” jelasnya.
Baca Juga: Galeri Nasional Bredel Pameran Tunggal Yos Suprapto saat Pembukaan
Ia menegaskan bahwa karyanya bukanlah bentuk ungkapan politik melainkan representasi seni yang menggambarkan realitas.
“Saya adalah anggota masyarakat saat ini. Saya seniman adalah saksi sejarah. Dan saya bisa menyaksikan kesaksian saya tadi dalam bentuk karya seni. Jadi itu karya seni bukan ungkapan politik,” imbuh Yos.
Fadli Zon Sebut Ada Muatan Makian dalam Karya Yos
Sebelumnya, Fadli Zon menyatakan bahwa penolakan terhadap karya Yos dilakukan berdasarkan laporan kurator yang menyebut adanya muatan makian dalam beberapa lukisan.
Hal ini yang kemudian menjadi alasan utama pembatalan pameran tunggal tersebut. Namun, pernyataan ini ditentang oleh Yos, yang merasa penilaiannya tidak dilakukan secara objektif.
Baca Juga: Percasi Balikpapan Bakal Gelar Muskot, Hanya Enam Klub yang Memiliki Suara
Profil Singkat Yos Suprapto
Yos Suprapto bukan nama baru di dunia seni. Pria kelahiran Surabaya, 26 Oktober 1952 ini telah aktif berkarya sejak dekade 1970-an.
Kariernya mulai mendapat perhatian luas saat menggelar pameran tunggal bertajuk “Bersatu dengan Alam” di Taman Ismail Marzuki pada 1994.
Karya-karyanya dikenal memiliki garis dan warna khas, seperti hitam, merah, biru, hijau, kuning, dan putih.
Selain pelukis, Yos juga dikenal sebagai aktivis yang vokal menentang rezim Orde Baru. Ia bahkan pernah menjadi ilustrator majalah bawah tanah independen pada masa itu.
Di dunia akademik, Yos meraih gelar PhD di bidang Sosiologi Kebudayaan dari Southern James Cook University, Australia.
Baca Juga: Masih Kesulitan Menang, Barito Putera Incar Poin di Kandang PSM Makassar
Lukisan-lukisan Yos kerap mengangkat isu sosial, budaya, dan politik. Pada 2001, ia menggelar pameran bertema “Barbarisme: Perjalanan Anak Bangsa” yang mengecam budaya kekerasan.
Pada 2005, ia mengkritik korupsi di kalangan birokrasi lewat pameran bertajuk “Republik Udang”.
Terakhir, pada 2017, Yos mengangkat tema budaya maritim Indonesia dalam pameran “Arus Balik Cakrawala” di Galeri Nasional Indonesia. (*)
Editor : Dwi Puspitarini