Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Beras RI Jadi Rebutan, Tapi Pemerintah Baru Mau Ekspor kalau Syarat Ini Terpenuhi

Dwi Puspitarini • Kamis, 24 April 2025 | 17:36 WIB
Ilustrasi beras premium.
Ilustrasi beras premium.

KALTIMPOST.ID, Beras premium Indonesia tengah jadi primadona baru di pasar Asia Tenggara. Dari Malaysia hingga negara-negara ASEAN lainnya, permintaan terus berdatangan.

Tapi, pemerintah Indonesia tak gegabah. Presiden Prabowo Subianto memilih mengutamakan kebutuhan rakyat dulu sebelum menjual ke luar negeri.

"Beberapa negara sudah mendekati kita. Saya dapat laporan dari Menteri Pertanian dan Menko Pangan, mereka minta agar kita kirim beras ke mereka," ungkap Prabowo saat peluncuran Gerakan Indonesia Menanam (Gerina) di Banyuasin, Rabu (23/4/2025).

Namun, ia menegaskan, "Saya izinkan dan saya perintahkan kirim beras ke mereka, dan kalau perlu sekarang, atas dasar kemanusiaan. Kita jangan terlalu cari untung besar."

Sikap ini tak lepas dari kondisi Malaysia yang kini sedang "kritis" dalam urusan beras. Negara tetangga itu dilaporkan sedang kesulitan menjaga stok pangan karena panen lokal menurun, harga melonjak, dan petani yang makin sedikit.

“Malaysia memang sudah menyampaikan minat. Tapi saat ini, prioritas kami adalah ketahanan pangan nasional,” ujar Menteri Pertanian Amran Sulaiman.

Amran menyebut, permintaan itu akan ditanggapi setelah stok dalam negeri aman. Langkah ini menjadi perisai agar Indonesia tak mengalami krisis serupa.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menyebut beras Indonesia punya daya tarik tersendiri. Meski belum merinci volume ekspor, ia memastikan permintaan terus datang.

"Beras premium, beras eksotis kita itu memang sudah diekspor. Dan kayaknya masih banyak yang cari di ASEAN," katanya saat ditemui di Jakarta, Kamis (24/4/2025).

Di saat pasar luar negeri meminta, kondisi dalam negeri justru sedang panen raya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, produksi beras Januari–Mei 2025 diprediksi tembus 16,62 juta ton, naik 12,4% dari tahun sebelumnya.

BPS juga mengungkapkan potensi panen Maret–Mei diperkirakan mencapai 13,14 juta ton, dengan luas lahan panen naik hingga 4,3 juta hektare.

Namun, Deputi Statistik Produksi BPS M. Habibullah mengingatkan bahwa ini baru potensi, "Cuaca ekstrem masih bisa mempengaruhi hasil panen."

Di sisi lain, Malaysia menghadapi kenyataan pahit. Menurut laporan The Malaysian Reserve, negara itu kini hanya bisa memenuhi 56,2% kebutuhan berasnya sendiri. Target swasembada 75% pada 2025 tampak kian jauh.

Kondisi makin parah karena lahan pertanian berkurang, irigasi tua, dan banyak petani yang pensiun. Dampaknya, lebih dari 10 ribu hektare sawah rusak akibat perubahan iklim. Hama seperti ulat grayak dan kumbang juga memukul hasil panen.

“Pemerintah sudah naikkan subsidi, tapi struktur industri kita masih perlu reformasi besar,” kata Mario Valeriano, Direktur IADA Barat Laut Selangor.

Malaysia kini menargetkan swasembada 80% di 2030. Tapi Mario bilang, "Itu hanya akan tercapai kalau kita berani investasi besar-besaran untuk perbaikan irigasi dan adaptasi iklim." ***

Editor : Dwi Puspitarini
stok beras nasional ekspor beras indonesia beras premium asean prabowo