Berpulangnya Paus yang dikenal luas karena kerendahan hati dan kedekatannya dengan umat itu meninggalkan kekosongan di pucuk tertinggi kepemimpinan Gereja.
Masa ini disebut sede vacante, sebuah periode ketika Takhta Suci belum memiliki penerus, hingga akhirnya diselenggarakan konklaf, yakni forum tertutup yang mempertemukan para kardinal dari berbagai penjuru dunia untuk memilih Paus yang baru.
Konklaf dijadwalkan berlangsung sekitar dua minggu setelah wafatnya Paus, dan dalam proses ini, 135 kardinal akan terlibat sebagai pemilih sekaligus kandidat.
Salah satu dari mereka adalah Kardinal Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta yang berasal dari Bantul, Yogyakarta. Ia dijadwalkan bertolak ke Vatikan pada 4 Mei 2025 untuk turut serta dalam proses bersejarah tersebut.
Meski kansnya untuk terpilih sebagai Paus terbilang kecil, keikutsertaan Suharyo menjadi sorotan tersendiri. Ia mewakili kawasan Asia Tenggara yang selama ini jarang tampil di garis depan kepemimpinan Gereja global.
Kehadirannya membawa simbol keterlibatan wilayah selatan dan timur dunia dalam arah baru Gereja Katolik, yang kini semakin inklusif dan mencerminkan keberagaman umatnya.
Lebih dari sekadar mekanisme pemilihan, konklaf adalah momen penting bagi refleksi global: siapa yang mampu menuntun Gereja dalam tantangan era kontemporer?
Dalam konteks inilah, tokoh seperti Kardinal Suharyo menjadi sosok penting yang mencerminkan Gereja yang berkembang di luar Eropa dan Amerika Latin.
Profil Kardinal Ignatius Suharyo
Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo lahir pada 9 Juli 1950 di Sedayu, Bantul, DI Yogyakarta. Ia tumbuh dalam keluarga Katolik yang sangat religius, sebagai anak ketujuh dari sepuluh bersaudara.
Tiga dari saudaranya juga menjalani hidup bakti. Yaitu, satu orang sebagai biarawan dan dua lainnya sebagai biarawati.
Sejak usia belia, tepatnya 11 tahun, Suharyo telah menunjukkan ketertarikan pada kehidupan imamat dengan memilih belajar di Seminari Menengah Petrus Canisius, Mertoyudan.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di IKIP Sanata Dharma Yogyakarta dan berhasil meraih gelar Sarjana Muda dalam bidang filsafat dan teologi.
Kemudian, ia dikirim ke Roma untuk menempuh studi lanjut di Universitas Kepausan Urbaniana. Di sana, ia berhasil meraih gelar lisensiat pada 1979 dan gelar doktor dalam bidang Teologi Biblis pada 1981.
Suharyo ditahbiskan sebagai imam pada 26 Januari 1976 oleh Kardinal Justinus Darmojuwono. Kiprah panjangnya tidak hanya terbatas di altar, tetapi juga di dunia akademik dan formasi calon imam.
Ia mengabdi sebagai dosen, dekan Fakultas Teologi, hingga formator di Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan, Yogyakarta.
Pada 1997, ia diangkat menjadi Uskup Agung Semarang oleh Paus Yohanes Paulus II dan resmi ditahbiskan pada 22 Agustus di tahun yang sama.
Kemudian, pada 2006, ia diberi tanggung jawab tambahan sebagai pemimpin Ordinariat Militer Indonesia, membina umat Katolik yang bertugas di TNI dan Polri.
Kariernya berlanjut saat pada 29 Juni 2010 ia ditunjuk menjadi Uskup Agung Jakarta, menggantikan Kardinal Julius Darmaatmadja yang pensiun.
Selain itu, ia memegang berbagai peran penting dalam struktur Gereja Katolik Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dari 2000 hingga 2006, kemudian dipercaya sebagai Presiden KWI selama tiga periode dari 2012 hingga 2021.
Tonggak penting dalam pengabdiannya terjadi pada 5 Oktober 2019, ketika Paus Fransiskus mengangkatnya menjadi Kardinal-sebuah kehormatan tinggi dalam hierarki Gereja Katolik.
Ia menjadi orang Indonesia ketiga yang menyandang gelar tersebut, setelah Kardinal Justinus Darmojuwono dan Kardinal Julius Darmaatmadja. Ia menerima gelar kehormatan Spirito Santo alla Ferratella dari Takhta Suci.
Kini, di usianya yang ke-74, Kardinal Suharyo tidak hanya membawa suara umat Katolik Indonesia ke jantung Gereja Katolik dunia.
Tetapi juga menunjukkan bahwa Gereja di Asia Tenggara memiliki kapasitas dan kedalaman spiritual yang layak diperhitungkan dalam arah masa depan Gereja universal. (*)
Editor : Almasrifah