Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Paus Berikutnya Bisa dari Asia atau Afrika? Ini Sosok-Sosok yang Jadi Kandidat Kuat

Dwi Puspitarini • Minggu, 27 April 2025 | 09:54 WIB
Tangkapan layar para kardinal Gereja Katolik menghadiri konklaf pemilihan di Kapel Sistina pada 18 April 2005 di Vatikan.
Tangkapan layar para kardinal Gereja Katolik menghadiri konklaf pemilihan di Kapel Sistina pada 18 April 2005 di Vatikan.

KALTIMPOST.ID, Dunia Katolik tengah bersiap menghadapi momen besar. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari 1.200 tahun, kemungkinan besar Paus baru berasal dari Asia atau Afrika.

Dua nama yang kini digadang-gadang sebagai calon kuat adalah Kardinal Luis Antonio Tagle dari Filipina dan Kardinal Peter Turkson dari Ghana.

Perubahan peta kekuatan ini terjadi seiring merosotnya jumlah umat Katolik di Eropa, Amerika Utara, dan Amerika Latin, sementara Asia dan Afrika justru mengalami lonjakan keanggotaan yang luar biasa.

"Siapa pun paus berikutnya, dia harus fokus menarik evangelis untuk mengimbangi penurunan jumlah umat Katolik global," kata Andrew Chesnut, Ketua Studi Katolik di Virginia Commonwealth University, dikutip dari Axios.

Chesnut, yang sebelumnya memprediksi akurat terpilihnya Paus Fransiskus pada 2013, menyebut Tagle dan Turkson sebagai sosok moderat yang tetap berpihak pada kaum miskin dan para migran.

"Tagle, yang berasal dari keluarga kaya Filipina-Tionghoa, datang dari kawasan yang dianggap sebagai pintu gerbang menuju China—negara yang sangat ingin dimasuki oleh gereja," ujar Chesnut.

Sementara Turkson, lanjutnya, "dibesarkan dalam keluarga besar di Ghana Barat, wilayah yang pertumbuhan Katolik-nya sedang meledak."

Jika Tagle terpilih, ia akan menjadi paus pertama keturunan Asia setelah ribuan tahun.

Sedangkan Turkson, bila terpilih, akan menjadi paus berkulit hitam pertama sejak era awal gereja.

Keduanya dianggap mewakili semangat baru, lebih dekat dengan umat, moderat dalam sikap, namun tetap berakar pada nilai-nilai gereja.

Selain Tagle dan Turkson, ada juga nama lain yang masuk daftar, yaitu Kardinal Pietro Parolin dari Italia, yang moderat dan dikenal diplomatis. Dan, Kardinal Peter Erdo dari Hongaria, jagoan dari kubu konservatif.

Namun gelombang perubahan tampaknya lebih berpihak pada Tagle dan Turkson. Asia dan Afrika kini menjadi harapan baru gereja yang sedang berjuang menghadapi krisis keanggotaan.

Saat Paus wafat, gereja menggelar konklaf — pertemuan rahasia para kardinal di Vatikan untuk memilih pemimpin baru.

Menurut aturan (Pasal 33 dalam Universi Dominici Gregis), paus baru harus mendapat dua per tiga suara dari seluruh kardinal yang hadir.

Konklaf biasanya dimulai 15-20 hari setelah paus wafat, memberi waktu bagi seluruh kardinal dari penjuru dunia untuk berkumpul.

Tantangan Berat Paus Berikutnya

Menurut Chesnut, paus mendatang harus berani bergerak cepat untuk menghadapi dua masalah besar, yaitu penurunan jumlah umat Katolik di Amerika Latin dan Eropa.

Serta, Minimnya fokus pada evangelisasi (penyebaran iman) selama era Fransiskus.

"Ini salah satu kegagalan terbesar Paus Fransiskus. Dia tidak fokus pada evangelisasi. Dia bahkan tidak mengunjungi tanah kelahirannya, Argentina," kritik Chesnut. ***

Editor : Dwi Puspitarini
#gereja katolik #kardinal peter turkson #konklaf Vatikan #pemilihan paus baru #paus berikutnya #kardinal luis tagle #calon paus baru