KALTIMPOST.ID, Presiden Prabowo Subianto memang sudah memberi restu agar Indonesia bisa mulai ekspor beras ke negara-negara yang membutuhkan.
Namun, hingga akhir April 2025, ekspor itu belum juga dilakukan. Mengapa?
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, akhirnya angkat bicara soal itu. Ia mengungkapkan bahwa ekspor belum bisa dilakukan karena Indonesia masih harus mengamankan cadangan beras nasional terlebih dahulu.
"Pak Presiden itu orang yang humanity-nya sangat tinggi. Begitu melihat negara atau tetangga kurang beras, yang dipikirkan oleh beliau itu bagaimana membantu," ujar Arief, Selasa (29/4/2025).
Namun Arief mengingatkan, kebaikan hati itu tetap harus diimbangi dengan perhitungan cadangan yang matang.
Baca Juga: Sudah Daftar Haji tapi Bingung Kapan Berangkat? Ini Cara Mengeceknya
"Sama kayak naik pesawat udara. Kalau terjadi sesuatu, kita pakai masker oksigen buat diri sendiri dulu, baru menolong orang lain," tegasnya.
"Jadi, kita kemarin masih menyiapkan cadangan pangan pemerintah kita."
Menurut Arief, stok cadangan beras di Bulog saat ini sudah mencapai 2 juta ton. Ditambah hasil panen yang sedang diserap sekitar 1,5 juta ton, maka totalnya menjadi 3,5 juta ton.
"Insyaallah, kalau panen normal sampai akhir tahun, kita cukup bahkan sampai tahun 2026 atau 2027. Tapi kita nggak pernah tahu cuaca dan kondisi ke depan, jadi cadangan itu penting," jelasnya.
Presiden Prabowo memang sudah mengizinkan ekspor, bahkan dalam acara Gerakan Indonesia Menanam (Gerina) di Banyuasin beberapa waktu lalu, beliau menegaskan komitmennya.
Baca Juga: Profil Raiyah Chitra Caesaria, Mantan Pramugari Singapura yang Jadi Bagian Keluarga Cendana
"Saya izinkan dan saya perintahkan kirim beras ke mereka, dan kalau perlu sekarang, atas dasar kemanusiaan kita jangan terlalu cari untung besar, yang penting ongkos produksi, plus angkutan, plus administrasi kembali," ucap Prabowo, Rabu (23/4/2025). "Yang penting ongkos produksi, plus angkutan, plus administrasi kembali."
Namun, Arief menegaskan bahwa ekspor baru akan dilakukan setelah penghitungan stok secara menyeluruh selesai.
"Presiden kita bilang boleh ekspor. Tapi saya menyarankan, sebaiknya kita penuhi dulu cadangan dalam negeri. Setelah itu baru kita hitung lagi," ucapnya.
Hingga saat ini pun belum ada pihak yang secara resmi ditunjuk untuk melakukan ekspor, baik dari pemerintah, Bulog, maupun swasta.
Baca Juga: Kenapa Kamu Selalu Merasa Cemas setelah Main Medsos? Ini Penyebab yang Jarang Disadari
"Belum ada, belum ada hingga hari ini. B2B juga nggak apa-apa," ujarnya.
Ketika ditanya negara mana saja yang tertarik membeli beras Indonesia selain Malaysia, Arief belum mau merinci. "Saya belum sampai situ," katanya singkat.
Meskipun begitu, Arief meyakinkan bahwa neraca pangan terus diawasi ketat. Produksi saat ini memang melimpah, namun dia mengingatkan bahwa kondisi itu tidak bisa dijamin akan bertahan.
"Produksi tidak akan naik terus. Ada masanya akan turun, itu lembahnya nanti di akhir tahun," tutup Arief. ***
Editor : Dwi Puspitarini