KALTIMPOST.ID, Satu keputusan yang mengejutkan datang dari tubuh Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Mutasi Letnan Jenderal TNI Kunto Arief Wibowo, anak dari mantan Wakil Presiden RI era Soeharto, Jenderal (Purn) Try Sutrisno dibatalkan hanya sehari setelah diumumkan.
Semula, Kunto akan digeser dari posisi strategisnya sebagai Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I ke jabatan Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Namun, keputusan ini direvisi dalam waktu singkat.
"Setelah dipertimbangkan ulang, ternyata dalam rangkaian mutasi itu ada beberapa yang belum bisa digeser. Jadi bukan karena hal lain, ini murni kebutuhan organisasi," ujar Kepala Pusat Penerangan TNI, Brigjen Kristomei Sianturi, dalam konferensi pers daring, Jumat (2/5).
Revisi di Tengah Sorotan
Revisi mendadak ini membuat publik bertanya-tanya. Apalagi, nama Kunto tak lepas dari bayang-bayang sejarah. Ia adalah putra dari Jenderal besar yang pernah menjadi orang nomor dua di Indonesia, Try Sutrisno. Maka tak heran, ketika mutasi dibatalkan, banyak yang menduga-duga adanya tekanan dari luar.
Namun TNI tegas membantah. "Tidak ada kaitannya dengan ayah beliau. Pak Kunto itu memang masih dibutuhkan di posisinya saat ini. Organisasi kita belum siap kalau dia pindah," tegas Kristomei.
Menurutnya, revisi mutasi dilakukan karena ‘gerbong’ yang harus bergeser bersama Kunto tidak bisa dipindahkan sekarang. Ada beberapa perwira tinggi yang masih harus menyelesaikan tugas penting.
"Kalau satu gerbong nggak bisa digeser, maka semuanya ikut tertahan. Ini seperti rantai. Kita tidak bisa sembarangan memutus," jelasnya.
Nama Ajudan Jokowi Juga Terseret
Sebelumnya, jabatan Pangkogabwilhan I sempat diumumkan akan diisi oleh Laksamana Muda Hersan, mantan ajudan Presiden Joko Widodo. Hersan bahkan telah dipindahkan dari jabatannya sebagai Pangkoarmada III.
Namun karena revisi mutasi, posisi itu kembali ke Letjen Kunto. “Mutasi bukan hanya sekadar rotasi, ini soal kesiapan organisasi dan siapa yang bisa langsung bertugas,” ujar Kristomei.
TNI Bantah Tekanan Politik
Kristomei kembali menegaskan bahwa mutasi ini bukan akibat desakan politik atau polemik internal. Belakangan ini memang ramai isu tuntutan pemakzulan terhadap Wapres Gibran Rakabuming Raka dari sejumlah purnawirawan TNI.
"Mutasi ini tidak ada hubungannya dengan tuntutan apa pun di luar. Ini bukan karena forum purnawirawan, bukan juga karena posisi keluarga Pak Kunto," tegas Kristomei.
Menurut dia, TNI aktif tidak terkait dengan para purnawirawan yang sudah tidak lagi menjadi bagian dari struktur resmi.
Kapan Mutasi Ulang?
Lantas kapan mutasi Letjen Kunto akan dilakukan lagi? Kristomei menyebut, mutasi bisa kembali dibahas saat sidang dewan jabatan berikutnya, biasanya tiga bulan sekali.
"Nanti akan kita lihat siapa yang pensiun, siapa yang bisa digeser. Saat ini, beberapa posisi masih krusial dan belum bisa ditinggalkan," ucapnya. ***
Editor : Dwi Puspitarini