KALTIMPOST.ID, Megawati Soekarnoputri terpilih kembali menjadi ketua umum (ketum) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Pengukuhan Megawati sebagai ketua umum PDIP periode 2025-2030 ini dilaksanakan saat Kongres keenam PDIP yang berlangsung di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Badung, Bali, Jumat (1/8).
Megawati bukan kali ini saja menjadi ketum PDIP. Mantan presiden kelima tersebut telah menjabat sebagai ketum PDIP sejak 1999.
Dengan pengukuhan tersebut, itu artinya Megawati jadi salah satu ketua umum terlama di Indonesia yang memimpin partai sejak awal pendiriannya.
Dalam kongres yang digelar PDIP, Megawati menegaskan pentingnya soliditas partai, gotong royong, dan dukungan terhadap pemerintahan Prabowo Subianto.
Mereka juga diberikan pembekalan penguatan peran fraksi di lembaga legislatif.
Profil Megawati Soekarnoputri
Berdasarkan Wikipedia, Megawati Soekarnoputri merupakan putri sulung atau anak kedua presiden pertama Indonesia yang juga proklamator, Soekarno. Ibunya bernama Fatmawati Soekarno.
Wanita yang memiliki nama lengkap Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri ini lahir di Jogjakarta, 23 Januari 1947.
Kehidupan masa kecil Megawati dilewatkan di lingkungan Istana Negara.
Sejak masa kanak-kanak, Megawati sudah lincah dan suka main bola bersama saudaranya Guntur.
Sebagai anak gadis, Megawati mempunyai hobi menari dan sering ditunjukkan di hadapan tamu-tamu negara yang berkunjung ke Istana. Kegemarannya dalam hal menari menjadi daya tarik tersendiri.
Pendidikan Megawati Soekarnoputri
Megawati memulai pendidikannya, dari SD hingga SMA di Perguruan Cikini, Jakarta.
Lalu ia melanjutkan studinya di dua universitas, yaitu Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Bandung pada 1965 hingga 1967 dan Fakultas Psikologi Universitas Indonesiapada 1970-1972 meski tak menyelesaikan studinya.
Kehidupan Pribadi
Dari biografi Megawati Soekarnoputri, Megawati pernah menikah dengan pilot Letnan Satu Penerbang TNI AU bernama Surindro Supjarso.
Dari pernikahannya, keduanya dikaruniai dua anak lelaki bernama Mohammad Prananda dan Mohammad Rizki Pratama.
Namun, kebahagiaan rumah tangga bersama Surindro Supjarso harus terhenti karena Surindro dinyatakan hilang dalam tugas militer pada 1970.
Pencarian ketika itu dilakukan namun tidak membuahkan hasil hingga akhirnya Surindro Supjarso dinyatakan meninggal dunia.
Lalu tiga tahun kemudian Megawati menikah dengan pria bernama Taufik Kiemas, asal Ogan Komiring Ulu, Palembang yang kemudian menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 2009-2013.
Kehidupan keluarganya bertambah bahagia, dengan dikaruniai seorang putri Puan Maharani.
Terjun ke Dunia Politik
Masuknya Megawati ke kancah politik, berarti beliau telah mengingkari kesepakatan keluarganya untuk tidak terjun ke dunia politik.
Trauma politik keluarga itu ditabraknya. Megawati tampil menjadi primadona dalam kampanye Partai Demokrasi Indonesia (PDI), walau tergolong tidak banyak bicara.
Ternyata berhasil, untuk PDI naik. Megawati terpilih menjadi anggota DPR/MPR. Pada tahun itu pula Megawati terpilih sebagai Ketua DPC PDI Jakarta Pusat.
Akan tetapi, kepemimpinannya di PDI tidak berjalan mulus. Sebab, ada konflik internal yang berujung pada perpecahan partai dan peristiwa Kudatuli pada 27 Juli 1996.
Setelah rezim Orde Baru tumbang, Megawati mendirikan PDI Perjuangan.
Di bawah kepemimpinannya, partai berlambang banteng gemuk bermulut putih ini berhasil memenangi Pemilu 1999 dengan perolehan suara lebih dari 30 persen.
Puncak karier politik Megawati tercapai pada 23 Juli 2001, ketika dilantik sebagai presiden ke-5 RI menggantikan Gus Dur.
Selama menjabat hingga 20 Oktober 2004, Megawati memimpin Indonesia di tengah transisi politik yang penuh tantangan.
Setelah masa jabatannya berakhir, ia tetap aktif di kancah politik.
Megawati kembali mencalonkan diri sebagai presiden pada Pilpres 2004 dan 2009, meskipun gagal memenangi kedua pemilihan tersebut.
Hingga kini, Megawati masih menjabat sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan.
Tak hanya itu, Megawati kini dipercaya memegang jabatan strategis seperti Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Editor : Hernawati