KALTIMPOST.ID, Jika ada yang bertanya, siapakah sosok di balik keputusan abolisi Tom Lembong dan amnesti Hasto Kristiyanto, maka nama Sufmi Dasco yang mencuat ke permukaan.
Banyak yang menilai, pengampunan Tom Lembong dan Hasto Kristiyanto yang diberikan Presiden Prabowo Subianto sangat erat kaitannya dengan siasat dan gerakan Sufmi Dasco.
Tentunya, ini merupakan komunikasi politik tingkat tinggi. Langkah-langkah yang diambil Dasco pastinya telah berdasarkan pertimbangan dan kalkulasi poltik yang matang.
Apalagi, politikus senior Partai Gerindra dan sekaligus Wakil Ketua Dewan Perwalian Rakyat (DPR) itu bukan orang kemarin sore dalam gelanggang politik nasional.
Kepekaannya dalam mengendus situasi dan kondisi perpolitikan nasional tidak diragukan lagi.
Kepiawaian dan kelincahannya dalam melancarkan siasat dan strategi politik adalah makanan sehari-harinya.
Ia dianggap arsitek utama di balik “mesra dan hangat”-nya relasi PDI-P dan pemerintah.
Jadi, tidak heran abolisi dan amnesti Prabowo juga tidak lepas dari campur tangan pria kelahiran Bandung, 7 Oktober 1967 itu.
Dasco juga dianggap jembatan penghubung antara legislatif dan pemerintah.
Memang, di media massa, sosoknya tidak begitu vokal. Namun, perlahan tapi pasti, sepak terjanganya kian tampak.
Dengan pembawaan yang tenang dan santai, Dasco menelaah persoalan.
Tidak hanya itu, dia bergerak dengan senyap menjadi mediator dan bahkan problem solver.
Dasco tidak perlu banyak wacana untuk membuktikan kelayakannya sebagai komunikator dan negoisator ulung.
Sekali bergerak, dampaknya cukup terasa. Dari rekam jejaknya pun, sosok Dasco dipandang sebagai pribadi yang memiliki komitmen dan loyalitas tinggi kepada Gerindra dan Prabowo.
Terhitung sudah 17 tahun ia membersamai Prabowo dari 2008 Partai Gerindra.
Ragam peristiwa kekalahan, kekecewaan, dan kegetiran di medan politik telah dilalui. Namun, keputusannya untuk tidak hengkang dari Gerindra adalah wujud komitmen dan kesetiaannya pada Prabowo.
Hingga pada akhirnya, perjuangan dan pengorbanannya itu berbuah manis. Yakni ketika ketua umum-nya dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia ke-8.
Sampai saat ini, sosok Dasco bukan sekadar berada di lingkaran dekat Prabowo. Lebih dari itu, telah menjadi aktor di balik kebijakan dan keputusan strategis pemerintah.
Dasco dianggap mampu mencarikan komunikasi yang mandeg dengan pihak-pihak yang selama ini bersebrangan dengan pemerintah.
Tidak hanya itu, Dasco juga dinilai cepat merespons persoalan masyarakat.
Contoh nyatanya yaitu ketika terjadi penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga penghentian sementara perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Saat itu tanpa banyak basa-basi, Dasco bersama rombongan DPR mendatangi BEI. Kedatangannya tersebut ternyata berdampak positif pada pasar saham.
Demikian juga dengan abolisi Tom Lembong dan amnesti Hasto Kristianto, tentu tidak lepas dari gebrakan Dasco. Dialah seniman politik yang sebenarnya.
Editor : Hernawati