Ia berpandangan bahwa dunia usaha membutuhkan kepastian dan stabilitas jangka panjang. Hal tersebut hanya bisa dicapai apabila sistem pertahanan nasional kondisinya kuat dan siap menghadapi segala bentuk ancaman. Tanpa pertahanan baik, tambah Bamsoet, ekonomi akan selalu rapuh jika diguncang krisis global.
“Apabila kita bicara ekonomi, jangan pernah lepas dari isu pertahanan. Dunia usaha bergerak kalau ada kepastian, dan kepastian itu lahir dari kekuatan, baik militer, pangan, energi, hingga siber," tegas Bamsoet, dikutip dari antaranews.com (8/8).
Tidak hanya itu, pria kelahiran Jakarta, 10 September 1962, itu menerangkan bahwa penguatan pertahanan harus dilihat sebagai bagian integral strategi pembangunan ekonomi, bukan sebagai beban anggaran negara.
Menurutnya, semua pihak perlu mendukung upaya pemerintah dalam memodernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista), merevitalisasi industri pertahanan dalam negeri seperti PT Pindad dan PT PAL, serta rencana penguatan ekosistem industri strategis nasional.
Ia juga mewanti-wanti bahwa mitigasi risiko strategis dalam dunia usaha merupakan hal yang penting, termasuk dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik dan ancaman siber.
Selanjutnya, ia menambahkan lagi bahwa kita membutuhkan literasi pertahanan dalam arti luas. Dunia usaha harus sadar bahwa ancaman bukan sekadar fisik.
Serangan digital bisa melumpuhkan sistem logistik nasional, mengganggu transaksi keuangan, membuat investor takut. Sehingga hal tersebut, ungkap Bamsoet, harus menjadi perhatian bersama. (*)
Editor : Almasrifah