Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ciptakan Lingkungan Pendidikan yang Aman, Perempuan Bangsa Susun Modul untuk Referensi Mendidik Santri

Muhammad Aufal Fresky • Minggu, 31 Agustus 2025 | 13:24 WIB
Perempuan Bangsa menggelar workshop anti-pencabulan yang dirangkai dengan Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) di Jakarta.
Perempuan Bangsa menggelar workshop anti-pencabulan yang dirangkai dengan Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) di Jakarta.

KALTIMPOST.ID, Tingginya angka kekerasan seksual di dunia pendidikan, terutama di pesantren, mendapatkan perhatian besar dari DPP Perempuan Bangsa.

Sebab itu, berbagai pemikiran dikumpulkan guna menyusun strategi konkret menghapus kekerasan tersebut.

Seperti yang dilansir jawapos.com (31/8), Perempuan Bangsa menggelar workshop anti-pencabulan yang dirangkai dengan Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) di Jakarta.

Melalui langkah ini diharapkan bisa menjadi sarana bagi ibu nyai dan ning memperkuat peran dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman.

"Kami berharap agar pesantren dapat kembali menjadi rumah yang aman dan penuh kedamaian bagi para santri, tanpa adanya kekerasan yang dapat merusak masa depan mereka," kata Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa, Nihayatul Wafiroh, Sabtu (30/8/2025). 

Diketahui, dalam workshop tersebut, para peserta berhasil merumuskan sejumlah keputusan dan rekomendasi yang diharapkan dapat menjadi pedoman dalam mencegah dan menanggulangi kekerasan seksual di pesantren.

Salah satu hasil penting dari workshop ini adalah lahirnya modul anti-pencabulan di pesantren, yang disusun dengan melibatkan ratusan ibu nyai dan ning yang hadir.

Ninik, sapaan akrab Nihayatul, berharap modul tersebut bisa digunakan sebagai referensi dalam mendidik dan memberikan pemahaman kepada para pengasuh pesantren, santri, serta masyarakat sekitar untuk menghindari perilaku yang merugikan.

Tidak hanya itu, Perempuan Bangsa juga menyampaikan harapan besar bahwa pesantren dapat menjadi tempat yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang bagi generasi penerus bangsa.

"Pesantren harus menjadi rumah yang melahirkan keberagaman, intelektualitas, dan karakter, serta menjadi benteng dari segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual," tambahnya.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI itu juga menambahkan, untuk terus mengawal kemaslahatan dan kemajuan pesantren tidak sekadar melalui kegiatan ini, namun juga dalam menjaga integritas dan moralitas dunia pesantren. 

Lewat langkah tersebut, Perempuan Bangsa bertekad menciptakan perubahan yang signifikan demi masa depan pesantren yang lebih baik, dengan mengedepankan keselamatan dan keberlanjutan pendidikan yang penuh martabat.

"Kami akan terus berusaha memastikan bahwa pesantren tetap menjadi lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan kemanusiaan, serta menjadi tempat yang aman bagi para santri dalam mengembangkan potensi mereka," pungkas Ninik.

Editor : Hernawati
#workshop #kekerasan seksual #Perempuan Bangsa