KALTIMPOST.ID, Nama Nadiem Anwar Makarim kembali mencuat. Kali ini bukan karena inovasi atau kiprah bisnisnya, melainkan lantaran ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook oleh Kejaksaan Agung (4/9/2025).
“Sebelumnya penyidik telah menetapkan 4 orang sebagai tersangka. Perkembangan saat ini penyidik telah menetapkan kembali satu orang sebagai tersangka inisial NAM,” ujar Kapuspenkum Kejagung Anang Supriatna.
Kasus ini bukan perkara kecil. Proyek pengadaan Chromebook di Kemendikbudristek disebut mencapai Rp 9,9 triliun, dan diduga sarat persekongkolan sejak awal.
Dari Keluarga Pejuang hingga Harvard
Di balik statusnya sebagai tersangka, publik menyoroti sisi lain Nadiem. Lahir di Singapura pada 4 Juli 1984, ia adalah putra Nono Anwar Makarim, seorang pengacara sekaligus aktivis, dan Atika Algadri, seorang penulis lepas.
Sang ibu merupakan putri dari Hamid Algadri, tokoh perintis kemerdekaan Indonesia.
Latar belakang keluarga ini membuat publik bertanya-tanya bagaimana seorang cucu pejuang bisa terseret pusaran kasus korupsi besar.
Pendidikan Nadiem juga bukan sembarangan. Setelah lulus SMA, ia menempuh studi Hubungan Internasional di Brown University (AS), sempat mengikuti program pertukaran di London School of Economics, lalu meraih gelar MBA dari Harvard Business School.
Jejak Karier Sebelum Politik
Sebelum menjadi Menteri, Nadiem sempat berkarier di McKinsey & Company, lalu ikut membangun Zalora Indonesia, serta menjadi Chief Innovation Officer Kartuku.
Puncaknya adalah saat ia mendirikan Gojek pada 2011, yang kemudian menjadi salah satu startup terbesar di Asia Tenggara. Nama Nadiem pun melejit sebagai simbol inovasi anak muda.
Namun kini, perjalanan panjang itu berbalik arah. Dari sosok yang dulu dielu-elukan sebagai “menteri muda penuh visi,” Nadiem justru disorot karena dugaan korupsi raksasa di dunia pendidikan. ***
Editor : Dwi Puspitarini