KALTIMPOST.ID, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya buka suara soal unggahan putranya, Yudo Sadewa, yang sempat bikin heboh di media sosial.
Yudo menulis konten di akun Instagram pribadinya yang seolah menuding mantan Menkeu Sri Mulyani Indrawati sebagai agen CIA.
Lewat akun pribadinya, Yudo sempat menulis status yang langsung bikin gaduh.
Ia menulis: “Alhamdulillah, ayahku melengserkan agen CIA Amerika yang menyamar jadi menteri.” Publik sontak mengaitkan kalimat itu dengan Sri Mulyani Indrawati, Menkeu sebelumnya yang digantikan Purbaya pada Senin (8/9).
Unggahan itu viral, menuai sorotan, hingga akhirnya dihapus. Purbaya buru-buru memberi klarifikasi dan menegaskan anaknya masih muda serta belum memahami dampak dari media sosial.
“Dia nggak ngerti, masih kecil. Sudah saya larang, sekarang tidak boleh main Instagram lagi,” ujar Purbaya di Istana Kepresidenan, Rabu malam (10/9).
Tak hanya melarang anaknya bermain medsos, Purbaya juga mengaku kaget karena kini setiap langkahnya menjadi perhatian publik.
“Biasanya santai, nggak ada yang lihatin. Ternyata sekarang semua gerakan dilihat orang,” tambahnya.
Di sisi lain, Yudo sudah sempat membuat klarifikasi dan permintaan maaf.
Ia menyebut unggahannya hanya bahan candaan dengan teman-temannya, dan menegaskan tidak benar diarahkan kepada Sri Mulyani.
Bahkan, ia berdalih tudingan CIA dalam tulisannya bukan ditujukan kepada sosok menteri, melainkan pada “ternak Mulyono” meski sampai kini siapa yang dimaksud masih belum jelas.
Pelantikan Purbaya sebagai Menkeu sendiri diatur lewat Keppres Nomor 86P Tahun 2025.
Presiden Prabowo Subianto resmi menunjuknya menggantikan Sri Mulyani.
Dalam Keppres yang sama, Mukhtarudin dilantik sebagai Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), sementara Mochamad Irfan Yusuf Hasyim dan Dahnil Anzar Simanjuntak didapuk memimpin Kementerian Haji dan Umrah.
Kasus ini pun menjadi sorotan publik, menandai awal masa jabatan Purbaya dengan bumbu kontroversi di luar tugas utamanya.
Publik kini menunggu, apakah sang menteri mampu mengalihkan perhatian ke kinerjanya di bidang keuangan negara atau terus dibayangi drama keluarga.
Editor : Hernawati