KALTIMPOST.ID-Presiden Prabowo Subianto sangat memperhatikan detail pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama terkait penyajian telur.
Ia menekankan bahwa setiap anak harus menerima satu butir telur utuh, yang harus dimasak dengan cara direbus atau diceplok.
Menurut Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, instruksi ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap anak benar-benar mendapatkan satu porsi telur utuh.
Memasak telur dengan cara didadar atau diorak-arik tidak diperbolehkan karena berpotensi satu telur dibagi untuk beberapa anak.
“Kalau didadar ‘kan bisa untuk banyak orang, misalnya lima telur bisa dipakai untuk tujuh sampai sepuluh anak,” jelas Dadan.
"Padahal tujuan program ini, satu anak harus dapat satu telur utuh,” tambahnya seperti dikutip Rabu (24/9).
Dadan menambahkan, perhatian Presiden terhadap detail ini menunjukkan keseriusan dalam memastikan kualitas dan porsi makanan adil untuk setiap anak.
Di sisi lain, Kepala Staf Presiden (KSP) M. Qodari mengungkapkan adanya peningkatan kasus keracunan akibat program MBG. Data dari berbagai instansi menunjukkan lebih dari 5.000 siswa mengalami keracunan.
Kementerian Kesehatan mencatat 60 kasus dengan 5.207 korban (data per 16 September). BPOM mencatat 55 kasus dengan 5.320 korban (data per 10 September).
Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat lebih dari 5.360 anak mengalami keracunan massal.
Jawa Barat tercatat sebagai provinsi dengan kasus keracunan terbanyak. Puncak kejadian tertinggi terjadi pada bulan Agustus 2025.
Qodari menyebutkan empat penyebab utama keracunan, yaitu rendahnya higienitas makanan, suhu penyajian yang tidak sesuai standar, kesalahan dalam pengolahan pangan, kontaminasi silang dari petugas.
Selain itu, sebagian kasus juga diduga disebabkan oleh alergi pada anak yang menerima makanan. (*)
Editor : Almasrifah