KALTIMPOST.ID, Tindakan penyitaan sejumlah buku sebagai barang bukti kasus kerusuhan direspons oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) RI, Brian Yuliarto.
Seperti yang dilansir Jawapos.com, mulanya Brian enggan mengomentari dan berkilah tidak tahu. Namun setelah ditanya kembali, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) mengatakan sampai saat ini, pihaknya belum mendapatkan laporan resmi mengenai jenis maupun isi buku yang disita.
"Tetapi tentunya kita berharap adik-adik mahasiswa kita, dapat menyampaikan gagasan ide secara baik, sesuai ketentuan," ungkap Prof. Brian.
Selain itu, ia juga menegaskan bahwa pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tidak pernah mengeluarkan larangan terhadap buku.
"Ya buku harus sesuai dengan ketentuan, kalau buku-buku yang tidak sesuai dengan (nilai-nilai) bangsa kita, ya kita berharap tidak ada seperti itu," tegasnya.
Namun, saat awak media menanyakan apakah tindakan Polri yang menyita buku-buku sebagai barang bukti bisa disebut pembatasan gagasan akademik? Prof. Brian menyebut pihaknya belum bisa komentar lebih jauh.
"Saya harus cek lagi bukunya (yang disita oleh Polri sebagai barang bukti) seperti apa, tetapi sejauh ini dari kami belum ada evaluasi tentang (penyitaan) buku tersebut," ujarnya.
Sebelumnya, instansi Polri kembali menuai protes dari masyarakat, setelah Polda Jawa Barat dan Polda Jawa Timur menyita puluhan buku sebagai barang bukti demonstrasi ricuh dan kerusuhan akhir Agustus 2025.
Dalam sebuah konferensi di Mapolda Jabar, Selasa (16/9), Polri memperlihatkan kurang lebih 29 buku mengenai anarkisme yang disita dari tersangka aksi demonstrasi ricuh di Bandung.
Di antara buku-buku yang disita yaitu Jiwa Manusia di Bawah Sosialisme karya Oscar Wilde, Menganggur dan Melawan Negara karya Bob Black, hingga novel Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer.
Sementara itu, di Jawa Timur, polisi menyita 11 barang bukti buku serupa dari salah seorang tersangka kerusuhan dan perusakan Pos Polisi Lalu Lintas (Lantas) Waru, Sidoarjo pada Jumat–Sabtu (29–30/8) lalu.
Sedangkan dalam konferensi pers di Mapolda Jatim, Kamis (18/9), buku-buku yang disita, di antaranya Pemahaman Karl Marx karya Franz Magnis-Suseno, Anarkisme karya Emma Goldman, Kisah Para Diktator karya Jules Archer, dan Strategi Perang Gerilya Che Guevara. (*)
Editor : Almasrifah