Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

dr Tan Shot Yen Bongkar Masalah Program MBG: Dari Burger Murahan sampai Minuman Manis Berlabel Susu

Ari Arief • Jumat, 26 September 2025 | 17:51 WIB

Foto ilustrasi
Foto ilustrasi
KALTIMPOST.ID, JAKARTA- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan tajam, khususnya terkait kualitas gizi dan sumber pangan yang digunakan, dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi IX DPR RI pada Senin, 22 September 2025.

Ahli gizi terkemuka, dr Tan Shot Yen, menyampaikan keberatan kerasnya terhadap menu yang disajikan kepada anak-anak sekolah. Menurutnya, menu yang dibagikan sering kali didominasi oleh produk ultra-proses seperti burger, spageti, dan bakmi instan.

Tan menyoroti ketidaksesuaian bahan baku dengan kekayaan lokal Indonesia. Ia mencontohkan pembagian burger, yang bahan utamanya adalah tepung terigu-komoditas yang tidak tumbuh di Indonesia.

Kritik tajamnya juga tertuju pada kualitas isian makanan. Ia mengungkapkan bahwa di daerah-daerah, isi burger kerap diganti dengan "benda tipis berwarna pink" yang diragukan kandungan gizinya.

“Kalau yang dekat pusat mungkin disajikan chicken katsu agar terlihat bagus. Tapi coba lihat yang di daerah, mereka menerima benda tipis berwarna pink yang bahkan saya enggan menyebutnya daging olahan,” tegas Tan.

Selain makanan utama, dr. Tan juga menyoroti pembagian susu kemasan dalam program MBG. Ia mengingatkan bahwa sebagian besar etnis Melayu di Indonesia memiliki kecenderungan intoleransi laktosa.

Menurutnya, pemahaman bahwa susu adalah satu-satunya sumber protein harus diubah. Indonesia kaya akan sumber protein hewani lain yang lebih mudah diakses dan cocok, seperti telur, ikan, dan daging.

“Susu bukanlah sumber protein hewani yang esensial atau tak tergantikan. Selama ada telur, ikan, dan daging, negara kita tidak kekurangan protein,” jelasnya.

Ia juga mengklarifikasi bahwa produk yang dibagikan dalam program MBG sering kali bukanlah susu murni, melainkan minuman bergula yang memiliki nilai gizi rendah. “Yang dibagikan ini sejatinya bukan susu. Ini adalah minuman manis,” tukasnya.

Tan juga membeberkan temuan yang sangat mengkhawatirkan, termasuk adanya menu MBG yang berisi ayam mentah dan makanan yang sudah mengandung belatung. 

Ia menilai bahwa masyarakat sebetulnya sudah cerdas membedakan mana produk susu yang bergizi dan mana yang sekadar minuman manis.

Secara keseluruhan, dr. Tan menyimpulkan bahwa makanan ringan dan menu kering yang didistribusikan tidak memiliki nilai gizi yang memadai untuk tumbuh kembang anak. 

Ia mendesak pemerintah untuk segera mengevaluasi sistem distribusi MBG dan kembali berpegangan pada prinsip pangan lokal yang lebih aman dan bergizi.

Editor : Uways Alqadrie
#Dr Tan Shot Yen #program Makan Bergizi Gratis #dpr ri #kualitas gizi