Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Dari Meja Dosen ke Tahta Konglomerat: Kisah Henry Samueli, Profesor $ 5.000 yang Mendirikan Broadcom Senilai Triliunan

Ari Arief • Selasa, 7 Oktober 2025 | 10:28 WIB

Henry Samueli bermula dari dosen dan kini menjadi konglomerat dunia.
Henry Samueli bermula dari dosen dan kini menjadi konglomerat dunia.
KALTIMPOST.ID-Ini sebuah kisah menginspirasi. Henry Samueli, seorang akademisi yang sukses menjelma menjadi salah satu konglomerat terkaya di dunia, memperoleh sebagian besar kekayaannya dari perusahaan chip Amerika Serikat, Broadcom.

Menurut data terbaru Forbes per Minggu (5/10), total kekayaan Samueli diperkirakan mencapai US$ 31,1 miliar, atau setara dengan sekitar Rp 514,7 triliun (menggunakan asumsi kurs Rp 16.550 per dolar AS). Lantas, bagaimana perjalanan hidup pendiri raksasa teknologi ini?

Lahir di New York, AS, pada 20 September 1954, Henry Samueli tumbuh besar dalam keluarga imigran Yahudi-Polandia. Orang tuanya, Sala dan Aron, bermigrasi ke Amerika Serikat untuk menghindari tekanan Nazi di Eropa.

Saat Samueli masih kecil, keluarganya pindah ke Los Angeles dan membuka sebuah toko minuman keras.

Samueli sering membantu bisnis keluarga tersebut saat remaja, sebuah pengalaman yang ia sebut sebagai “paparan pertama pada dunia usaha,” dalam sebuah wawancara dengan President Broadcom Foundation Paula Golden (dikutip dari kanal YouTube Broadcom Foundation, 6 September).

Ketertarikan Samueli pada bidang elektronika mulai muncul ketika ia merakit radio AM/FM saat duduk di bangku sekolah menengah pertama. Passion inilah yang membawanya melanjutkan pendidikan di University of California, Los Angeles (UCLA), mengambil jurusan teknik elektronika.

Ia menyelesaikan pendidikan tinggi hingga meraih gelar doktor pada tahun 1980 dan kemudian menjadi dosen aktif di Departemen Teknik Elektro dan Komputer di almamaternya.

Selama menjadi profesor, Samueli dikenal produktif dalam berinovasi, menghasilkan puluhan hak paten di bidang elektronika.

Kehidupan Samueli sebagai akademisi berubah drastis pada tahun 1991. Bersama salah satu mahasiswa doktoralnya, Henry Nicholas, ia memutuskan untuk mendirikan Broadcom Corporation.

Mereka memulai dengan modal investasi masing-masing sebesar US$5.000. Kantor pertama mereka adalah di kondominium Nicholas di Redondo Beach, sebelum akhirnya pindah ke kantor sewaan dekat UCLA.

“Kami (Samueli dan Nicholas) tidak punya visi besar untuk perusahaan sebesar ini. Kami hanya berpikir akan sangat menarik untuk menjalankan beberapa proyek,” ungkap Samueli dalam wawancaranya dengan Wall Street Journal pada tahun 2012.

Pada tahun 1995, Samueli mengambil cuti mengajar dari UCLA dan mulai bekerja penuh waktu di Broadcom. Perusahaan pun memindahkan kantornya ke Irvine, California.

Broadcom resmi menjadi perusahaan publik setelah melantai di bursa AS pada tahun 1998, dan nilai sahamnya meroket seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan booming internet.

Jejak karir Samueli sempat diwarnai kontroversi pada tahun 2008. Ia terlibat dalam kasus pemalsuan tanggal (backdating) opsi saham perusahaan yang bertujuan memanipulasi keuntungan.

Samueli mengaku bersalah kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), yang mengakibatkan ia dikenai hukuman percobaan lima tahun, denda pidana US 250 ribu, dan wajib membayar US 12 juta ke Kementerian Keuangan AS.

Meskipun pernah terbelit kasus tersebut, reputasi Samueli di dunia teknologi tetap dihormati. Pada tahun 2016, Broadcom diakuisisi oleh perusahaan chip asal Singapura, Avago, dengan nilai fantastis US$ 37 miliar.

Samueli juga diakui secara luas atas kontribusinya di bidang elektronika. Ia memenangkan Marconi Prize and Fellowship pada tahun 2012 atas jasanya dalam mempelopori pengembangan rangkaian sinyal analog dan campuran untuk sistem komunikasi modern.

Tahun ini, ia juga menerima medali kehormatan dari American Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE).

Di luar dunia teknologi, Samueli dan istrinya, Susan Samueli, juga memiliki minat besar pada olahraga hoki. Pada tahun 2005, keduanya mengakuisisi Tim Hoki Anaheim Ducks senilai US 70 juta,yang kini nilai tim tersebut diperkirakan telah melampaui US 1 miliar.

Saat ini, Henry dan Susan Samueli tinggal di Newport Beach, California, bersama ketiga anak mereka. (*)

Editor : Almasrifah
#chip #kekayaan #Broadcom #amerika serikat #forbes #Henry Samueli