Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Kronologi Bullying SMPN 1 Geyer: Angga Bagus Berkelahi Dua Kali Sebelum Tewas, Otopsi Temukan Luka di Kepala

Uways Alqadrie • Selasa, 14 Oktober 2025 | 14:00 WIB

Warga mengantarkan jenazah Angga Bagus Perwira (12), siswa SMPN 1 Geyer yang diduga menjadi korban bullying, ke TPU di Desa Ledokdawan, Kabupaten Grobogan. (Foto Jawa Pos)
Warga mengantarkan jenazah Angga Bagus Perwira (12), siswa SMPN 1 Geyer yang diduga menjadi korban bullying, ke TPU di Desa Ledokdawan, Kabupaten Grobogan. (Foto Jawa Pos)
KALTIMPOST.ID, GROBOGAN — Kasus meninggalnya Angga Bagus Perwira (12), siswa kelas VII G SMP Negeri 1 Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, menyisakan duka mendalam. 

Berikut rangkaian peristiwa berdasarkan keterangan pihak sekolah, kepolisian, dan hasil autopsi.

Sabtu, 11 Oktober 2025 — Insiden Terjadi Saat Jam Istirahat

Sekitar pukul 11.10 WIB, saat jam istirahat kedua, sejumlah siswa dilaporkan melihat Angga terlibat cekcok dengan beberapa teman sekelasnya di teras ruang kelas VII G, lantai dua gedung sekolah. Lokasi kejadian cukup jauh dari ruang guru, sehingga tak terpantau oleh pengajar.

Beberapa menit kemudian, salah satu siswa melapor kepada guru bahwa Angga terjatuh dan tidak sadarkan diri. Guru serta teman-teman segera membawa korban ke UKS sekolah. Namun, kondisi Angga tak membaik, dan pihak sekolah kemudian melarikannya ke Puskesmas Geyer.

Sesampainya di Puskesmas, petugas medis menyatakan Angga telah meninggal dunia.

Setelah Kejadian — Sekolah Laporkan ke Polisi

Usai insiden, pihak sekolah langsung melapor ke Polres Grobogan. Kepala SMPN 1 Geyer, Sukatno, mengaku sangat terpukul atas peristiwa tersebut.

“Kami syok dan prihatin. Itu terjadi di jam istirahat kedua. Kami akan terus evaluasi, meski sosialisasi soal bahaya bullying sudah sering kami lakukan,” ujar Sukatno, Senin (13/10/2025).

Sekolah juga menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban dan menyatakan siap mendukung proses hukum yang berjalan.

Autopsi Dilakukan — Ditemukan Tanda Kekerasan Fisik

Atas permintaan keluarga, jenazah Angga dibawa ke RSUD Dr. R. Soedjati Soemodiardjo Purwodadi untuk diautopsi.

Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan adanya penggumpalan darah di kepala, yang diduga akibat benturan benda tumpul.

Temuan itu memperkuat dugaan bahwa korban mengalami kekerasan fisik sebelum meninggal dunia.

Penyelidikan Polisi — Fokus pada Teman Satu Kelas

Satreskrim Polres Grobogan melalui Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) memeriksa sejumlah saksi, termasuk teman sekelas, guru, dan kepala sekolah.

“Kami berhati-hati karena kasus ini melibatkan anak di bawah umur. Semua masih dalam proses pemeriksaan mendalam,” ujar AKP Rizky Ari Budianto, Kasatreskrim Polres Grobogan.

Kepala sekolah, Sukatno, mengatakan pihaknya telah menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus ini kepada kepolisian. “Segala proses penyelidikan sudah diambil alih oleh Polres Grobogan,” ujarnya, Minggu, 12 Oktober 2025.

Sejumlah teman korban mengaku, sebelum meninggal, Angga sempat terlibat dua kali perkelahian pada hari yang sama. 

Menurut salah satu saksi, APR, ejekan dari teman-temannya memicu pertengkaran. “Kepalanya sempat dipukul beberapa kali. Setelah itu dia kejang-kejang dan dibawa ke UKS, tapi tidak tertolong,” tutur APR.

Jenazah Angga dimakamkan keesokan harinya di pemakaman umum Desa Ledokdawan. Kedua orang tuanya, yang bekerja di Cianjur, langsung pulang setelah mendapat kabar duka. 

Pihak keluarga mendesak kepolisian melakukan autopsi karena mendapati tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. “Perut dan dadanya menghitam,” kata pamannya, Suwarlan.

Kakek korban, Pujiyo, mengaku cucunya kerap mengadu mengalami perundungan di sekolah. “Pernah tak mau masuk sekolah karena takut. Kami sudah lapor, tapi tak ada perubahan,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Kasus ini kini dalam penyelidikan Polres Grobogan. Pemeriksaan dilakukan terhadap sejumlah saksi, termasuk guru dan teman sekelas korban. 

Aparat berjanji akan mengusut tuntas dugaan kekerasan yang merenggut nyawa siswa berusia belia itu.

Baca Juga: Viral ASN Bengkulu Injak Alquran, Akui Emosional karena Masalah Pribadi dan Minta Maaf

Pihak keluarga kini menuntut agar penyelidikan dilakukan secara transparan. 

Mereka berharap otopsi dapat mengungkap penyebab pasti kematian Angga, termasuk dugaan bahwa korban sempat dijatuhkan dari tangga sebelum meninggal.

 

 

Editor : Uways Alqadrie
#kabupaten grobogan #Angga Bagus Perwira #SMPN 1 Geyer