Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Ratusan Siswa SMAN 11 Demo di Semarang, Desak Kepala Sekolah Buka Suara Soal Kasus Chiko AI Cabul

Uways Alqadrie • Senin, 20 Oktober 2025 | 17:44 WIB

Chiko Radityatama Agung Putra
Chiko Radityatama Agung Putra
KALTIMPOST.ID, SEMARANG — Suasana SMA Negeri 11 Semarang, Senin (20/10/2025), mendadak memanas. Ratusan siswa berseragam putih abu-abu berunjuk rasa di halaman sekolah usai upacara bendera. 

Mereka menuntut keadilan bagi para korban dugaan pelecehan berbasis digital yang menyeret nama seorang alumnus, Chiko Radityatama Agung Putra.

Chiko, yang kini tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip), diduga menyebarkan konten pornografi hasil manipulasi wajah menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI). 

Aksi bejat itu ramai diperbincangkan di media sosial setelah sejumlah akun mengungkap adanya korban di kalangan siswa dan guru SMAN 11 Semarang.

Dalam aksinya, para siswa membawa spanduk bertuliskan “Kami Butuh Keadilan!”, “Justice for SMAN 11!”, hingga “Korban Butuh Keadilan”. 

Seorang siswa yang menjadi orator dengan lantang menyerukan agar sekolah bersikap terbuka dan tidak menutup-nutupi kasus tersebut.

“Kami meminta mediasi terbuka dengan kepala sekolah. Kami tidak ingin anarkis, kami hanya ingin keadilan,” seru salah satu orator di depan para guru yang mencoba menenangkan massa.

Aksi spontan itu sempat membuat pihak sekolah dan guru terkejut. Kepala sekolah akhirnya mengizinkan 10 perwakilan siswa dari kelas XI dan XII untuk berdialog di ruang rapat. 

Namun para siswa menegaskan, mereka akan kembali turun jika hasil mediasi tidak transparan.

Menurut salah satu peserta aksi, Albani Telanai P, para siswa kecewa karena pihak sekolah dinilai lamban merespons kasus yang mencoreng nama baik sekolah tersebut.

“Kami ingin kepala sekolah bertanggung jawab. Jangan hanya diam dan menutup diri. Ini bukan soal nama baik, tapi soal keadilan bagi korban,” tegasnya.

Konten Cabul Beredar Lewat AI

Kasus ini mencuat sejak pertengahan Oktober, setelah sebuah akun di platform X (Twitter) membongkar aksi Chiko yang membuat dan menyebarkan foto serta video bermuatan cabul hasil rekayasa AI.

Unggahan itu menampilkan wajah sejumlah siswi dan seorang guru SMAN 11 Semarang yang dipadukan dengan tubuh orang lain dalam konten tak senonoh.

Penelusuran warganet dan akun komunitas lokal menunjukkan, pelaku telah memproduksi lebih dari 300 unggahan cabul di media sosial.

Serta menyimpan sekitar 1.100 video deepfake dalam penyimpanan daring. Sejauh ini, sedikitnya lima siswi dan satu guru disebut menjadi korban.

Chiko sempat mengunggah video permintaan maaf melalui akun resmi sekolah. Dalam video berdurasi dua menit itu, ia mengakui telah mengedit dan mengunggah foto-foto tanpa izin.

“Saya menyadari perbuatan saya telah menimbulkan dampak negatif bagi sekolah dan korban,” ucapnya dalam video tersebut.

Meski begitu, langkah permintaan maaf itu dianggap belum cukup oleh para siswa. Mereka menilai pihak sekolah terlalu cepat menutup kasus dengan dalih klarifikasi internal.

Reaksi Dinas dan Kampus

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (Disdikbud Jateng) serta DP3AP2KB Jateng ikut turun langsung ke sekolah saat upacara berlangsung. Kepala DP3AP2KB, Emma Rachmawati, hadir sebagai pembina upacara dan mengimbau agar penanganan kasus dilakukan secara sensitif terhadap korban.

Dari pihak kampus, Rektor Universitas Diponegoro, Suharnomo, menegaskan bahwa Undip tengah memproses kasus tersebut melalui Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS).

“Kami tidak akan mentolerir bentuk kekerasan seksual apa pun, meskipun terjadi sebelum mahasiswa bersangkutan kuliah di Undip. Proses pemeriksaan akan dilakukan segera,” ujarnya.

Undip berkomitmen memberikan sanksi tegas sesuai hasil pemeriksaan, termasuk kemungkinan drop out (DO) bila terbukti melanggar etika berat.

Menunggu Kejelasan dan Pemulihan Korban

Hingga berita ini ditulis, pihak sekolah belum memberikan keterangan resmi. Namun aksi para siswa menunjukkan kuatnya dorongan moral dari lingkungan sekolah agar kasus ini tidak berhenti di permintaan maaf semata.

Editor : Uways Alqadrie
#Chiko Radityatama #teknologi IA #video deepfake #SMAN 11 Semarang #Pelecehan digital