Kebakaran itu ternyata dipicu amarah seorang santri kelas 12 yang kerap menjadi korban perundungan teman-temannya.
Kapolresta Banda Aceh, Komisaris Besar Polisi Joko Heri Purwono, mengatakan pelaku yang masih berusia di bawah 18 tahun itu marah karena sering diejek dan direndahkan.
“Motifnya karena sakit hati. Korban kerap dibully dan dipanggil dengan kata-kata menghina seperti ‘idiot’ dan ‘tolol’,” ujar Joko kepada wartawan, Kamis, 6 November 2025.
Aksi pembakaran terekam kamera pengawas di lingkungan pesantren. Dalam rekaman CCTV, terlihat pelaku menyalakan api menggunakan kabel dan lembaran triplek di lantai dua asrama putra.
Api kemudian menjalar cepat dan melalap sebagian bangunan asrama serta kantin pesantren.
Usai membakar, pelaku langsung melarikan diri ke rumah orang tuanya. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, namun kerugian material dialami pihak pesantren akibat sebagian bangunan terbakar.
Menurut Joko, kasus tersebut murni disebabkan masalah pribadi. “Tidak ada unsur lain, ini murni karena tekanan dan perundungan yang sudah terjadi berulang kali,” katanya.
Polisi menduga pelaku tidak pernah melapor kepada pihak pesantren karena takut dan menanggung tekanan seorang diri.
Pondok Pesantren Babul Maghfirah yang diasuh Teungku Haji Masrul Aidi berlokasi di Desa Lam Alue Cut, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Kebakaran terjadi sekitar pukul 03.49 WIB, saat sebagian besar santri masih terlelap.
Editor : Uways Alqadrie