KALTIMPOST.ID, Berbagai upaya dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk terus mendukung emisi karbon dunia, salah satunya melalui salah satu perusahaan milik negara yaitu PT Pertamina (Persero), khususnya Pertamina Patra Niaga.
Perusahaan ini berkomitmen untuk mendukung penurunan gas emisi karbon yang sesuai dengan target Net Zero Emission 2060 dengan menghadirkan BBM ramah lingkungan. BBM yang hadir dengan kandungan etanol ini adalah Pertamax Green 95.
Setelah 2 Tahun Pemasaran di Indonesia
Pertamax Green 95 ini telah dipasarkan di Indonesia selama 5 tahun sejak 2023, BBM yang memiliki kandungan 5% Bioetanol (E5) ini menggunakan bahan baku lokal sebagai prioritas utama dengan memanfaatkan tetes tebu (molase).
Tetes tebu inilah yang dijadikan sebagai bioetanol fuel grade dari pemasok atau supplier lokal yang berasal dari Mojokerto-Jawa Timur.
Melalui Roberth MV Dumatubun, selaku Pj. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, menjelaskan jika dalam proses Pertamax Green 95 menggunakan campuran dari bahan bakar fossil (Gasoline) dengan bahan bakar nabati (Etanol) yang berasal dari tanaman tebu dengan memprioritaskan bahan baku lokal Jawa Timur.
Penggunaan bahan lokal ini tentunya dapat memperkuat nilai tambah bagi sektor agro-industri dan petani tebu di Indonesia. Selain itu, penggunaan bahan-bahan dari lokal juga akan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang telah lama dilakukan sehingga produk yang dihasilkan juga akan lebih ramah pada lingkungan.
Sudah mencapai 119 SPBU tersebar di Indonesia
Pertamax Green 95 juga sudah semakin mudah untuk ditemukan oleh masyarakat di kota maupun di daerah.
Menurut Roberth, penjualan Pertamax Green 95 telah berkembang pesat dan telah mencapai 119 SPBU di Pulau Jawa termasuk Jabodetabek, Tangerang Selatan, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur.
Walaupun dikenal sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan, namun Pertamax Green 95 juga menghadirkan keseimbangan antara performa kendaraan dan kepedulian pada lingkungan, sebuah langkah yang jika dilakukan bersama dan dapat membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih hijau.
Faktor alasan dugaan penggunaan Etanol Impor
Penggunaan etanol impor dalam proses produksi bahan bakar minyak Pertamax Green 95 ini diduga terjadi karena beberapa alasan perbedaan standar spesifikasi dan harga yang lebih mahal.
Menurut Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (Puskep UI), penggunaan bioetanol impor ini digunakan untuk mencukupi kebutuhan produksi BBM bervolume besar sedangkan bioetanol yang diproduksi oleh produsen dalam negeri masih terbatas dan cenderung fluktuatif. Selain itu, bioetanol dari produsen tebu lokal juga lebih mahal dibandingkan dengan bioetanol impor.
PT Pertamina Patra Niaga diduga sebagian masih mengimpor bioetanol dari negara seperti Thailand dan Brasil, hal ini karena kedua negara tersebut telah memenuhi kebutuhan awal program uji coba E5.
Selain karena faktor teknis dan harga, terdapat persoalan lain yaitu tentang mekanisme penyerapan wajib dimana pemerintah menetapkan formula harga dan menyerap seluruh proses produksi dalam negeri.
Salah satunya persoalan logistik serta integrasi rantai pasok juga masih menjadi kendala, hal ini karena sebagian besar pabrik bioetanol lokal terpisah dengan sistem distribusi BBM Pertamina sehingga akan kembali memakan biaya transportasi dan penyaluran meningkat.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah harus menyusun regulasi yang akan mendukung pemanfaatan bioetanol lokal dalam program E10 nantinya.
Editor : Hernawati