Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Negara-negara Gagal Redenominasi Mata Uang: Zimbabwe hingga Brasil Jadi Pelajaran untuk Indonesia

Uways Alqadrie • Rabu, 12 November 2025 | 15:17 WIB

Foto ilustrasi
Foto ilustrasi
KALTIMPOST.ID, JAKARTA — Rencana pemerintah untuk kembali menggulirkan redenominasi rupiah menuai perhatian para ekonom. Direktur Eksekutif Center of Economic Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengingatkan agar prosesnya dilakukan dengan perencanaan panjang dan kehati-hatian tinggi.

“Banyak negara mencoba redenominasi, tapi justru berujung pada hiperinflasi. Brasil, Ghana, dan Zimbabwe jadi contoh klasik,” kata Bhima saat dihubungi, Selasa (11/11).

Redenominasi, yang secara sederhana berarti penyederhanaan nominal tanpa mengubah nilai uang, pernah gagal di sejumlah negara.

Zimbabwe: Hiperinflasi Tak Terbendung

Zimbabwe empat kali mengganti mata uangnya antara 2006–2009. Pemerintah menghapus tiga hingga dua belas nol dari lembaran dolar Zimbabwe, namun inflasi tetap melonjak hingga 79,6 miliar persen per bulan. Akhirnya, pada 2009, negara itu menanggalkan mata uang sendiri dan mengizinkan penggunaan dolar AS serta rand Afrika Selatan.

Brasil: Enam Kali Coba, Enam Kali Gagal

Brasil juga berkali-kali memangkas nol dari real. Selama 25 tahun, pemerintah melakukan enam kali redenominasi dan memotong total 18 digit dari mata uang mereka. Hasilnya nihil. Inflasi tetap tinggi karena reformasi dilakukan tanpa pengendalian harga dan fiskal yang memadai.

Venezuela: Nol Dipangkas, Harga Tak Terkendali

Venezuela dua kali memangkas nol dari bolivar—lima digit pada 2018 dan enam digit lagi pada 2021. Pemerintah berharap inflasi mereda, namun nilai tukar terus jatuh hingga satu bolivar baru setara dengan satu triliun bolivar lama. Hiperinflasi tetap menghantam rakyat.

Ghana: Stabilitas Tak Tercapai

Ghana melakukan redenominasi pada 2007 dengan memperkenalkan cedi baru. Namun nilai tukar terhadap dolar AS terus melemah pada 2014, 2022, dan 2023, di tengah krisis fiskal dan guncangan eksternal. Baru pada 2025 cedi mencatat sedikit apresiasi tahunan.

Rusia: Krisis Pascaredenominasi

Rusia, pasca runtuhnya Uni Soviet, menghapus tiga nol dari rubel pada 1998 untuk menekan inflasi yang kala itu mencapai 15 persen. Setahun kemudian, justru inflasi melonjak hingga 120 persen, memperburuk kondisi ekonomi nasional.

Nigeria: Gagal karena Gejolak Sosial

Nigeria juga pernah melakukan redenominasi pada 1984 dengan menerbitkan uang kertas baru. Namun kebijakan itu memicu protes besar dan gagal menahan laju inflasi. Pemerintah pun kembali menghadapi krisis kepercayaan publik terhadap mata uang nasional.

Pelajaran bagi Indonesia

Menurut Bhima, keberhasilan redenominasi sangat bergantung pada lamanya persiapan dan luasnya sosialisasi. Ia menilai target pemerintah untuk menyelesaikan RUU Redenominasi pada 2027 terlalu singkat.

“Implementasi minimal butuh 8–10 tahun. Jadi, kalau pembahasan rampung 2027, maka 2035 baru realistis untuk diterapkan,” ujar Bhima.

Editor : Uways Alqadrie
#redenominasi uang #redenominasi rupiah #redenominasi #Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa #kementerian keuangan