KALTIMPOST.ID, Pemandangan yang tersisa di Desa Sekumur kini seperti potongan kisah yang sulit dipercaya.
Di tengah hamparan lumpur dan tumpukan kayu setinggi atap, hanya satu bangunan yang tetap berdiri, yakni sebuah masjid. Segala yang lain, kata warga, lenyap “dalam sekejap.”
Banjir bandang yang melanda pada Kamis (27/11) itu menghantam desa dengan ketinggian air yang diperkirakan mencapai 7 hingga 10 meter.
Warga setempat, Hendra, menggambarkan momen itu sebagai detik-detik ketika seluruh kampung hilang terbawa arus.
"Rumah warga hilang terbawa banjir dengan ketinggian air diperkirakan mencapai 7 hingga 10 meter, Desa Sekumur lenyap dalam sekejap, hanya tersisa masjid," kata Hendra kepada wartawan, Sabtu (6/12).
Dari 280 rumah yang dulu berdiri rapat di kampung itu, kini tak ada satu pun yang terlihat. Yang tampak justru tumpukan batang kayu berbagai ukuran, seolah menandai sisa-sisa kehidupan yang terhempas begitu cepat.
Beberapa warga bahkan terlihat memanjat puing-puing kayu setinggi atap masjid untuk bertahan.
Warga Mengungsi, Bantuan Mendesak
Hendra menuturkan bahwa seluruh warga kini telah mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
Kondisi mereka jauh dari stabil, terutama karena kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, pakaian, dan obat-obatan sangat terbatas.
Situasi ini juga telah sampai ke telinga Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang. Juru Bicara Pemkab, Agusliayana Devita, mengonfirmasi bahwa pihaknya menerima laporan bahwa Desa Sekumur memang hilang tersapu banjir.
"Menurut informasi dari pimpinan seperti itu (Sekumur hilang)," kata Devi saat dikonfirmasi terpisah.
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, turut menegaskan bahwa Desa Sekumur bukan satu-satunya yang mengalami kehancuran.
Ia menyebutkan bahwa banjir kali ini meluluhlantakkan sejumlah desa di berbagai daerah.
"Banyak kampung dan kecamatan yang tinggal nama sekarang. Jadi mereka udah banyak korban," ujar Mualem kepada wartawan. ***
Editor : Dwi Puspitarini