“Warga bisa meninggal bukan karena banjir, tapi karena kelaparan,” ujar Mualem di Aceh, Sabtu, 6 Desember.
Menurut dia, daerah paling parah berada di Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, hingga sebagian Bireuen—kawasan yang sejak awal pekan terkepung air dan lumpur.
Di beberapa kecamatan pedalaman, bantuan logistik tak bisa dikirim lewat jalur darat. Satu-satunya cara ialah memakai perahu karet untuk menembus permukiman yang nyaris hilang ditelan arus. Mualem meminta perangkat desa dan relawan mempercepat distribusi bahan pokok dan air bersih yang mulai menipis.
Ketua Umum Partai Aceh itu juga menuturkan, dari hasil pantauannya, banjir dan longsor kali ini meninggalkan kerusakan yang mengingatkannya pada suasana pascatsunami 21 tahun lalu. “Ini seperti tsunami kedua,” ucapnya.
Banyak fasilitas umum rusak, desa-desa terisolasi, dan beberapa kampung disebut “tinggal nama”.
Ia mendesak pemerintah pusat dan daerah bergerak lebih cepat, terutama untuk membuka akses darurat dan memperkuat dapur umum di titik pengungsian yang paling terpencil.
Editor : Uways Alqadrie