Mereka mengaku sebagai korban penipuan paket pernikahan yang dijanjikan WO tersebut.
Kapolres Metro Jakarta Timur Komisaris Besar Alfian Nurrizal mengatakan polisi segera turun tangan untuk meredam ketegangan.
Menurut dia, sekitar dua ratus orang berkumpul di depan rumah Ayu menuntut pertanggungjawaban. “Situasi sempat memanas,” ujarnya, 8 Desember 2025.
Sebelumnya, para klien yang merasa dirugikan mengaku sudah berulang kali meminta kejelasan mengenai layanan yang tak kunjung dipenuhi.
Ketika upaya mediasi buntu, massa memutuskan mendatangi rumah Ayu. Aksi itu berujung pada pengamanan oleh kepolisian.
Sejumlah waktu setelah insiden tersebut, penyidik Polres Metro Jakarta Utara menahan Ayu dan empat stafnya. Kepala Satuan Reserse Kriminal AKBP Onkoseno G. Sukahar membenarkan bahwa lima orang dari tim WO itu tengah diperiksa. “Termasuk pemiliknya,” katanya.
Laporan yang masuk ke polisi mencapai 87 pengaduan dengan pola dugaan penipuan serupa: paket pernikahan ditawarkan lengkap, tetapi fasilitas yang dijanjikan tidak diberikan.
Kerugian seluruh korban ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. “Pada kenyataannya, ketentuan paket itu tidak dipenuhi,” ujar Onkoseno.
Popularitas WO Ayu Puspita sebelumnya cukup dikenal di berbagai pameran pernikahan. Vendor ini menawarkan paket all-in mulai dari venue, dekorasi, katering, hingga dokumentasi. Di media sosial, akun resminya kerap menampilkan portofolio acara yang terlihat profesional.
Namun, video klarifikasi Ayu yang beredar justru memperkuat kekecewaan para klien. Dalam rekaman itu, dia mengatakan perusahaannya menghadapi masalah pengelolaan keuangan.
Ia mengakui adanya praktik menutup biaya acara lama dengan dana klien baru—skema yang menyerupai gali lubang tutup lubang. Ia bahkan menyatakan berniat menjual rumahnya untuk menutup kewajiban kepada klien.
Hingga kini, pihak WO belum memberikan penjelasan lebih lanjut. Penyidik masih memeriksa kelima orang yang diamankan untuk mendalami aliran dana dan pola bisnis yang dijalankan perusahaan tersebut.
Editor : Uways Alqadrie