Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Menhan Sjafrie Buka Suara Soal Bantuan Asing ke Aceh: Bukan Bantuan Negara, Tapi...

Dwi Puspitarini • Selasa, 9 Desember 2025 | 18:36 WIB

 

Menhan Sjafrie Sjamsoeddin.
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin.

 

KALTIMPOST.ID, Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, termasuk Aceh, memicu perdebatan mengenai bantuan dari luar negeri.

Khususnya, setelah Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), memberikan 'lampu hijau' terhadap masuknya bantuan internasional dari Malaysia dan China.

Namun, Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin memberikan klarifikasi yang mengejutkan terkait bantuan yang sudah diterima Aceh tersebut.

Ia menegaskan bahwa bantuan yang masuk itu bukanlah bantuan asing yang melalui mekanisme pemerintah pusat.

Menurut Menhan Sjafrie, bantuan relawan dan obat-obatan yang sudah mendarat di Aceh, khususnya dari China, adalah urusan 'personal' yang diterima oleh Mualem.

“Sebetulnya yang dimaksud itu adalah personal yang dari China itu, itu bukan bantuan asing, itu bantuan personal kepada Mualem yang mau mencari jasad-jasad dari para korban bencana,” kata Sjafrie di Makassar, Selasa (9/12/2025).

Aceh Buka Pintu, Pusat Klaim Mandiri

Sikap Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem sebelumnya terkesan berbeda dengan pernyataan dari Jakarta.

Mualem memastikan bahwa pihaknya tidak akan mempersulit masuknya relawan internasional atau bantuan dari luar negeri.

"Saya rasa tidak ada larangan. Sah-sah saja, tidak ada masalah," ujar Mualem pada Minggu (7/12) usai rapat percepatan penanganan bencana di Aceh Besar.

“Mereka tolong kita, kok kita persulit?” tambahnya.

Sejauh ini, Aceh sudah menerima bantuan obat-obatan dan dokter dari Malaysia, serta lima relawan dari China untuk membantu pencarian korban.

Bahkan, Mualem mengumumkan bahwa gelombang kedua bantuan dari Malaysia berupa 3 ton obat-obatan dan dokter dijadwalkan tiba pada Rabu (10/12).

Kemandirian Indonesia Jadi Fokus Presiden Prabowo

Terlepas dari bantuan yang diterima Aceh, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan posisi Pemerintah Pusat.

Ia menyatakan bahwa penanggulangan bencana di tiga provinsi (Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh) sepenuhnya ditangani secara mandiri oleh Indonesia.

Hal ini, lanjut Sjafrie, merupakan hasil evaluasi langsung dari Presiden Prabowo Subianto.

“Beliau sudah mengambil suatu evaluasi bahwa bencana ini adalah bencana yang bisa kita atasi oleh bangsa sendiri,” tegasnya.

“Tetapi secara keseluruhan penanggulangan bencana yang ada di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, serta Aceh, itu ditanggulangi secara mandiri,” imbuh Menhan Sjafrie.

Pemerintah, kata Sjafrie, saat ini memiliki kemampuan peralatan yang memadai, logistik yang cukup, dan obat-obatan yang melimpah, ditambah dengan tenaga medis yang berkolaborasi dari berbagai universitas.

“Kita mampu lakukan secara kemampuan yang ada. Ini berbeda dengan saat dulu kita menghadapi tsunami, kita mengalami kesulitan karena kita tidak punya kemandirian. Sekarang kita mandiri untuk mengatasi yang ada di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat,” pungkas Sjafrie.

Sikap Pemerintah Pusat ini sejalan dengan pernyataan Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, sebelumnya, yang mengklaim APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) Indonesia cukup kuat untuk mengatasi bencana tanpa perlu mengandalkan bantuan internasional. ***

Editor : Dwi Puspitarini
#Muzakir Manaf #bantuan asing #Bantuan Bencana Aceh #Gubernur Aceh Muzakir Manaf #kemandirian Indonesia #Sjafrie Sjamsoeddin