KALTIMPOST.ID, Peristiwa tragis banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatra awal Desember lalu disebabkan oleh badai besar Siklon Tropis Senyar.
Bencana ini menelan korban jiwa mencapai 1.006 orang dan 212 orang masih dinyatakan hilang per Sabtu (13/12).
Yang lebih mengejutkan, Siklon Senyar muncul di lokasi yang secara teori dianggap mustahil, yaitu Selat Malaka.
Selama ini, Indonesia dianggap "kebal" terhadap siklon tropis karena posisi geografisnya di garis khatulistiwa.
Gaya Coriolis, yang muncul akibat rotasi Bumi, membuat badai besar seperti enggan mendekati wilayah ekuator.
Namun, munculnya Senyar di perairan sempit seperti Selat Malaka disebut BMKG sebagai anomali dan menandai babak baru dinamika cuaca ekstrem di Nusantara.
"Dalam catatan meteorologi, hanya sedikit badai yang mampu terbentuk di wilayah sempit dekat ekuator," kata Klimatologi BMKG, Deni Septiadi.
Kasus langka serupa terakhir terjadi dua dekade lalu, yaitu Tropical Storm Vamei (2001) yang muncul di Laut Natuna.
Peringatan BMKG: Indonesia Sudah Tidak Aman Lagi!
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, secara tegas mengakui bahwa Indonesia tidak bisa lagi berpuas diri.
Catatan lima tahun terakhir menunjukkan adanya peningkatan siklon tropis yang mulai mendekat ke wilayah Indonesia.
"Ini tentunya kita harus waspada bahwa tidak bisa lagi, artinya memandang bahwa Indonesia akan aman dari lintasan siklon," ujar Andri Ramdhani.
Siklon-siklon yang "bandel" dan nekat mendekati daratan Indonesia kini bukan lagi mitos, seperti yang dibuktikan oleh:
- Siklon Tropis Seroja (2021) yang benar-benar masuk ke wilayah daratan NTT dan menewaskan 181 korban jiwa.
- Siklon Tropis Cempaka di selatan Yogyakarta.
- Siklon Tropis Dahlia.
Baca Juga: Ramp Check Dermaga Mahakam, Dishub Samarinda Temukan Life Jacket Rusak Jelang Nataru
Mengapa Lautan Kita Makin Menghangat dan Membahayakan?
Faktor utama yang disebut sebagai biang keladi di balik fenomena ini adalah perairan Indonesia yang semakin menghangat.
Mengutip dari cnnindonesia.com yang diakses pada Selasa (16/12/2025), Mantan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa permukaan air laut yang hangat lebih dari 26,5 derajat Celsius menjadi komponen utama munculnya siklon tropis.
Air laut yang hangat menyebabkan penguapan lebih cepat, mengakselerasi siklus hidrologi, dan membuat awan hujan yang terbentuk menjadi lebih masif dan cepat.
Selain itu, suhu air laut yang hangat juga menciptakan perbedaan suhu dengan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.
“Jadi perbedaan suhu muka air laut antara Samudera Hindia dengan kepulauan Indonesia, maka terjadilah aliran massa udara basah dari Samudera Hindia ke Indonesia," jelas Dwikorita Karnawati.
Massa udara basah ini semakin menguatkan pembentukan awan-awan ekstrem di Indonesia, yang bahkan dapat diperparah oleh fenomena regional seperti Madden-Julian Oscillation (MJO). ***
Editor : Dwi Puspitarini