Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Urus Uang Keluarga, Perempuan Justru Paling Rentan Terjebak Pinjol Ilegal

Dwi Puspitarini • Senin, 22 Desember 2025 | 18:13 WIB
Ilustrasi arisan. Banyak Ibu terjebak pinjol demi gengsi di lingkaran sosialnya.
Ilustrasi arisan. Banyak Ibu terjebak pinjol demi gengsi di lingkaran sosialnya.

KALTIMPOST.ID, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali mengingatkan masyarakat bahwa ancaman penipuan keuangan tidak selalu datang dari orang asing.

Justru, celah terbesar sering muncul dari lingkungan yang paling dekat dan dipercaya, terutama di kalangan perempuan yang sehari-hari memegang kendali keuangan rumah tangga.

Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Cecep Setiawan, menilai perempuan—khususnya ibu rumah tangga—memiliki peran strategis sekaligus posisi paling rentan dalam pengelolaan keuangan keluarga.

Rendahnya literasi keuangan membuat mereka kerap berada di persimpangan sulit saat harus mengambil keputusan finansial.

“Perempuan ini memiliki tingkat literasi yang lebih rendah dibanding laki-laki. Padahal laki-laki dan perempuan sama-sama wajib memiliki pengalaman keuangan yang adil,” ujar Cecep dalam kegiatan literasi keuangan OJK bersama Kemenko PMK di Jakarta, Senin (22/12/2025) yang dikutip dari kontan.co.id.

 Baca Juga: Rekor Pemulihan Aset! KPK Kembalikan Rp 1,53 Triliun ke Negara dan Jerat 118 Tersangka Selama 2025

Berdasarkan survei OJK, sekitar 99 persen pengelolaan keuangan keluarga berada di tangan perempuan, terutama untuk keputusan jangka pendek.

Mulai dari belanja harian, menabung, hingga mencari dana saat kondisi darurat.

Namun ironisnya, peran besar tersebut tidak selalu dibarengi pemahaman keuangan yang memadai.

Kondisi ini membuka peluang besar bagi praktik pinjaman online ilegal dan investasi bodong.

Arisan, Lingkar Pertemanan, dan Risiko yang Tak Disadari

Cecep mengungkapkan bahwa penipuan keuangan sering menyusup lewat aktivitas sosial yang terlihat aman, seperti arisan atau komunitas ibu-ibu.

Dalam kelompok tersebut, biasanya ada sosok yang dianggap berpengaruh dan dipercaya.

Baca Juga: Buntut OTT KPK, Kejagung Copot Tiga Pejabat Kejaksaan Negeri Hulu Sungai Utara

“Istri itu gampang senang berkumpul ya. Mungkin dia juga senang arisan dan sebagainya, senang berkumpul. Sehingga ketika ada pimpinan arisannya, kalau istilah kerennya itu influencer-nya mau investasi di sini, kadang-kadang ikut-ikutan,” ujarnya.

Menurut Cecep, tawaran investasi menggiurkan sering kali tidak disertai penjelasan risiko yang jelas.

Tanpa mengecek legalitas dan izin resmi, banyak perempuan akhirnya terjebak dalam skema ilegal.

“Ketik a ada yang menawarkan investasi ilegal, apapun bentuknya, siapapun orangnya, baik yang teman terbaik,” sebutnya.

 Baca Juga: KPK Bongkar Modus Pemerasan Kajari Hulu Sungai Utara, Ancaman Penjara Jadi Alat Cari Cuan

Tekanan Ekonomi dan Jerat Pinjol Ilegal

Tekanan ekonomi keluarga juga memperparah kerentanan ini. Saat penghasilan tidak mencukupi, perempuan sering berada di garis depan untuk mencari solusi cepat.

“Tidak punya uang, larinya kemana? Kalau tidak punya uang, larinya kemana? Pinjol. Pinjol satu tidak bisa membayar, larinya ke pinjol yang kedua,” tutur Cecep.

Kondisi tersebut kerap berujung pada praktik gali lubang tutup lubang, di mana utang lama ditutup dengan utang baru yang bunganya lebih besar.

Selain itu, perilaku konsumtif juga menjadi faktor pemicu. Dorongan gaya hidup dan tekanan sosial membuat seseorang membeli sesuatu bukan karena kebutuhan.

“Membeli barang dengan uang yang tidak mereka miliki, dan membeli barang yang tidak mereka butuhkan, untuk mengesankan orang yang tidak mereka sukai,” ungkapnya.

 Baca Juga: KPK Buru Kasi Datun Kejari Hulu Sungai Utara yang Kabur saat OTT

OJK menegaskan bahwa literasi keuangan perempuan bukan hanya soal melindungi diri sendiri, tetapi juga menyangkut masa depan keluarga dan anak-anak.

Pola konsumsi, kebiasaan menabung, hingga sikap terhadap utang umumnya diwariskan dari ibu ke anak.

“Jadi hati-hati, Ibu. Mulai mengatur dengan pengeluaran responsible spending. Ibu boleh membeli sesuatu asalkan responsible,” kata Cecep.

Menurutnya, setiap keputusan belanja harus disadari sebagai pengorbanan terhadap aset lain di masa depan. ***

Editor : Dwi Puspitarini
#pinjol ilegal #ojk #bahaya pinjol ilegal #keuangan keluarga #literasi keuangan #investasi bodong #pinjaman online