Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Kasus Anak SD Bunuh Ibu di Medan: Kakak Pelaku Mengalami Gangguan Stres Akut

Uways Alqadrie • Selasa, 30 Desember 2025 | 11:37 WIB

Foto ilustrasi
Foto ilustrasi
KALTIMPOST.ID, MEDAN - Kasus dugaan pembunuhan seorang ibu oleh anak kandungnya yang masih duduk di bangku sekolah dasar di Medan terus menyisakan dampak berkepanjangan bagi keluarga korban. 

Selain korban jiwa, peristiwa tersebut memunculkan persoalan serius terkait kondisi psikologis anak-anak dalam keluarga tersebut.

Kakak kandung pelaku dilaporkan mengalami gangguan stres akut setelah mengetahui dan menyaksikan dampak peristiwa kekerasan yang menewaskan ibunya, Faizah Soraya. 

Kondisi tersebut membuat sang kakak harus mendapatkan pendampingan psikososial secara intensif dari pemerintah daerah dan tenaga profesional.

Hasil autopsi yang dilakukan tim medis Rumah Sakit Bhayangkara mengungkap korban meninggal akibat 26 luka tusuk di beberapa bagian tubuh. 

Aparat kepolisian menyebut luka-luka tersebut menjadi penyebab utama kematian korban di kediamannya di Medan.

Penyelidikan dilakukan dengan pendekatan ilmiah melalui metode crime scientific investigation. 

Proses tersebut melibatkan Polrestabes Medan, Polda Sumatera Utara, hingga asistensi dari Mabes Polri guna memastikan penanganan perkara berjalan sesuai ketentuan hukum, khususnya karena melibatkan anak yang berhadapan dengan hukum.

Psikolog forensik Irma Minauli menyebut tindakan pelaku tidak muncul secara tiba-tiba. Menurutnya, terdapat akumulasi tekanan emosional akibat kekerasan dalam rumah tangga yang berlangsung selama beberapa tahun.

Meski kakak pelaku lebih sering menjadi sasaran kekerasan fisik, justru adik yang menjadi pelaku memendam luka psikologis yang lebih dalam.

Irma menjelaskan kakak pelaku cenderung berusaha memahami kondisi ibunya, sementara sang adik mengalami penumpukan rasa marah, takut, dan tertekan. Situasi keluarga yang memburuk, termasuk hubungan orang tua yang tidak harmonis, memperparah kondisi emosional anak-anak di dalam rumah tersebut.

Dampak terberat kini dialami sang kakak. Ia menunjukkan gejala kecemasan berlebih, ketakutan akan kejadian serupa, serta rasa was-was terhadap keselamatan dirinya sendiri. Kondisi tersebut dikategorikan sebagai acute stress disorder atau gangguan stres akut pascatrauma.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana Provinsi Sumatera Utara menyatakan kedua anak kini berada dalam pengawasan dan pendampingan intensif. 

Langkah ini diambil untuk memulihkan kondisi psikologis serta mencegah trauma jangka panjang.

Sementara itu, kepolisian juga memberikan klarifikasi terkait temuan jejak darah di lokasi kejadian yang sempat menimbulkan spekulasi publik. 

Polisi menegaskan seluruh bukti telah dianalisis secara forensik dan menjadi bagian dari berkas penyidikan.

Editor : Uways Alqadrie
#Anak SD bunuh ibu kandungnya #anak bunuh ibu di medan #polrestabes medan #trauma berat