Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

BNPB Hadirkan Dokter dan Psikiater untuk Melayani Psikososial Warga Pascabencana di Sumatra

Rendy Fauzan • Selasa, 30 Desember 2025 | 16:28 WIB

 

LENGKAP: BNPB terus melengkapi item layanannya untuk memudahkan pemulihan pascabencana Sumatra.
LENGKAP: BNPB terus melengkapi item layanannya untuk memudahkan pemulihan pascabencana Sumatra.

KALTIMPOST.ID, JAKARTA - Tak hanya memberikan pelayanan kesehatan fisik, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menyediakan layanan psikososial dalam proses pemulihan trauma pascabencana banjir dan longsor di wilayah terdampak di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

 

“Di setiap kabupaten/kota secara berkala, satu hingga dua kali seminggu, terus kami laksanakan,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (28/12).

 

Aam, sapaan akrab Abdul Muhari, menjelaskan bahwa layanan tersebut tidak hanya diberikan kepada anak-anak, juga kepada para ibu dari warga terdampak. “Kami mendatangkan tenaga ahli, dokter, psikiater, serta para relawan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan psikososial,” ujarnya.

 

Menurut Aam, layanan psikososial ini akan diteruskan secara berkelanjutan guna membantu masyarakat pulih dari trauma akibat bencana. “Ini tetap kami programkan. Harapannya, secara bertahap dapat memulihkan trauma yang dialami saudara-saudara kita pascabencana,” jelasnya.

 

Ia menambahkan, BNPB juga terus mempercepat perbaikan fasilitas umum, termasuk sekolah dan madrasah yang rusak maupun tertutup lumpur akibat banjir akhir November lalu. Ia berharap kegiatan belajar mengajar dapat kembali berlangsung pada awal semester genap, pekan pertama Januari mendatang.

 

“Beberapa fasilitas pendidikan yang sebelumnya terdampak lumpur kini sudah dapat difungsikan kembali,” ujarnya.

 

Meski demikian, untuk sekolah yang mengalami kerusakan cukup parah, BNPB telah menyiapkan sejumlah tenda darurat. “Sehingga, untuk sekolah-sekolah yang masih memerlukan perbaikan, proses belajar mengajar dapat dilakukan di tenda sementara,” tutup Aam.

Editor : Rendy Fauzan