KALTIMPOST.ID, Pemerintah kembali menunjukkan keseriusannya dalam memperkuat layanan gizi nasional. Badan Gizi Nasional (BGN) bersiap mengangkat 32 ribu Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) sekaligus pada Februari 2026.
Jumlah ini menjadi salah satu pengangkatan PPPK terbesar yang pernah dilakukan dalam satu lembaga.
Langkah masif tersebut bukan sekadar penambahan pegawai, melainkan bagian dari strategi besar negara untuk memastikan program pemenuhan gizi berjalan langsung hingga ke tingkat layanan terdepan.
Ribuan tenaga baru ini akan menjadi ujung tombak dalam mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah.
Rencana besar ini dipaparkan oleh Kepala BGN, Dadan Hindayana, dalam pertemuan resmi dengan Komisi IX DPR RI di Jakarta baru-baru ini.
Dari total puluhan ribu formasi yang tersedia, distribusi jabatan difokuskan pada penguatan layanan gizi di lapangan, dengan rincian sebagai berikut:
- Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)
Sebanyak 31.250 formasi dialokasikan untuk posisi ini, yang nantinya akan ditempati oleh para lulusan SPPI guna mengelola dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). - Tenaga Akuntan
Tersedia 750 formasi yang disiapkan untuk mendukung fungsi administratif dan keuangan. - Tenaga Gizi
Sebanyak 375 formasi khusus disediakan untuk ahli di bidang gizi.
Seluruh peserta yang akan diangkat telah melalui proses seleksi dan kini memasuki tahap akhir administrasi.
Jika berjalan sesuai rencana, mereka akan resmi mulai bertugas per 1 Februari 2026, memperkuat layanan gizi di berbagai wilayah Indonesia.
Pengangkatan ini menjadi kelanjutan dari tahap pertama yang telah sukses dilaksanakan pada Juli 2025. Kala itu, 2.080 PPPK mulai bekerja dan langsung terlibat dalam pelaksanaan program strategis nasional.
Dengan tambahan puluhan ribu personel baru, pemerintah berharap pemerataan layanan gizi dapat berlangsung lebih cepat dan lebih merata.
Langkah besar BGN ini juga mencerminkan arah kebijakan pemerintah yang tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga investasi jangka panjang pada kualitas sumber daya manusia, dimulai dari pemenuhan gizi masyarakat.***
Editor : Dwi Puspitarini