KALTIMPOST.ID, SUKABUMI-Harapan NS (12) untuk kembali menuntut ilmu di Pondok Pesantren Darul Ma'arif Cibitung pada bulan Ramadan mendatang kini tinggal kenangan.
Santri kelas 1 SMPIT tersebut dinyatakan meninggal dunia di RSUD Jampangkulon, Kamis (19/2/2026), setelah sempat berjuang melawan luka bakar di sekujur tubuhnya.
Kepergian remaja kelahiran Januari 2013 ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan lingkungan sekolah.
Di balik sosoknya yang ceria, kematian NS memicu tanya besar lantaran kondisinya yang melepuh saat dilarikan ke rumah sakit.
Muncul dugaan kuat bahwa luka-luka tersebut merupakan dampak penganiayaan yang dilakukan oleh ibu tirinya.
Meski baru satu tahun mengenyam pendidikan di pesantren, kehadiran NS memberikan warna tersendiri. Pimpinan Ponpes Darul Ma'arif, Abdurrahman, mengenang almarhum sebagai pribadi yang menonjol bukan hanya karena kecerdasannya, tetapi juga karena kesantunannya.
Baca Juga: Pelajar MTsN di Kota Tual Meninggal Dunia, Diduga Akibat Kekerasan Oknum Aparat Brimob
"Almarhum adalah anak yang aktif, sopan, dan sering mengundang tawa. Sehari sebelum masa libur, ia bahkan masih terlihat ceria bermain sepak bola di halaman sekolah," tutur Abdurrahman dengan nada pilu, Sabtu (21/2/2026).
Karena kepribadiannya yang baik, pihak sekolah sebelumnya memberikan kebijakan khusus berupa keringanan biaya agar NS dapat terus melanjutkan pendidikannya tanpa hambatan finansial.
Pertemuan Terakhir yang Mengiris Hati
Pihak pesantren terakhir kali melihat NS dalam keadaan sehat pada Selasa (3/2/2026), saat para santri dipulangkan sementara karena adanya renovasi asrama. Namun, kabar yang datang dua pekan kemudian sungguh di luar dugaan.
NS ditemukan dalam kondisi kritis dengan luka bakar serius. Pihak sekolah yang sempat menjenguk ke RSUD Jampangkulon mengaku sangat terpukul melihat kondisi santrinya yang berubah drastis dari saat terakhir meninggalkan pondok.
"Saat kami menjenguk, kondisinya sangat mengkhawatirkan karena luka bakar tersebut. Kami merasa sangat kehilangan," tambah Abdurrahman.
Harapan Akan Keadilan
Kini, lingkungan SMPIT Darul Ma’arif hanya bisa mengirimkan doa terbaik untuk almarhum. Pihak sekolah mendesak agar penyebab pasti kematian dan luka yang diderita NS dapat diungkap secara transparan oleh pihak berwajib.
"Kami berharap peristiwa ini bisa terungkap dengan terang benderang. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya," ujarnya.(*)
Editor : Almasrifah