KALTIMPOST.ID, Sejarah politik Indonesia mencatat drama unik pada tahun 1993. Kala itu, kursi Wakil Presiden RI menjadi rebutan panas.
Banyak yang menjagokan BJ Habibie, namun secara mengejutkan, nama Try Sutrisno yang justru naik ke puncak kekuasaan mendampingi Presiden Soeharto.
Padahal, sosok Try Sutrisno bukanlah pilihan utama yang diinginkan Soeharto untuk posisi strategis tersebut.
Lantas, bagaimana mantan Panglima ABRI ini bisa melenggang menjadi Wapres ke-6 mengalahkan kandidat kuat lainnya?
Manuver Cepat Sang Panglima
Saat itu, BJ Habibie yang menjabat Ketua ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) adalah sosok kesayangan Soeharto.
Dukungan untuk Habibie pun mengalir deras, termasuk dari partai berbasis Islam seperti PPP.
Habibie dianggap sebagai teknokrat ulung yang mampu membawa Indonesia ke era modern.
Namun, kalangan militer punya strategi berbeda. Tanpa menunggu komando resmi dari Soeharto, kelompok ABRI secara mengejutkan mengumumkan dukungan mereka kepada Try Sutrisno.
Manuver ini sering disebut sebagai langkah awal agar posisi RI 2 tetap dipegang oleh figur militer.
Antara Loyalitas dan Pilihan Politik
Meski Try Sutrisno adalah mantan ajudan kesayangan Soeharto, sang Presiden dikabarkan sempat terkejut dengan tekanan politik dari struktur militer tersebut.
Baca Juga: Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno Meninggal Dunia di Usia 90 Tahun
Dalam proses yang sangat kompleks, Soeharto akhirnya "terpaksa" menerima Try sebagai pendampingnya demi menjaga stabilitas dan soliditas dukungan militer pada masa Orde Baru.
Maka, pada 11 Maret 1993, Try Sutrisno resmi dilantik sebagai Wakil Presiden RI ke-6 menggantikan Soedharmono.
Ia menjabat hingga 1998, sebelum akhirnya posisi tersebut diisi oleh BJ Habibie di periode berikutnya.
Berawal dari Penjual Rokok
Di balik drama politik tersebut, Try Sutrisno adalah figur yang sangat membumi. Ia bukan lahir dari keluarga jenderal atau pengusaha kaya.
Jauh sebelum masuk radar kekuasaan, ia pernah menjalani hidup yang sangat sederhana.
Baca Juga: KPK Telisik Aliran Dana Korupsi Bea Cukai, Nama Purbaya dan Sri Mulyani Masuk Radar Pemeriksaan
"Saya bukan anak jenderal," kenangnya dalam berbagai kesempatan. Untuk membantu ekonomi keluarga, Try Sutrisno muda pernah berjualan air minum di stasiun, menjadi loper koran, hingga menjajakan rokok keliling.
Jejak Karier Try Sutrisno
- Awal Karier: Masuk Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) tahun 1956.
- Karier Militer: Menjabat KSAD (1986–1988) hingga Panglima ABRI (1988–1993).
- Karier Politik: Wakil Presiden RI ke-6 (1993–1998).
- Organisasi: Pernah menjabat Ketua Umum PBSI.
Baca Juga: Menjemput Rimba di Ibu Kota, Saat Satwa Mulai Pulang ke Hutan IKN
Kisah Try Sutrisno membuktikan bahwa meski tanpa "restu awal" dari sang penguasa, kombinasi antara kerja keras sejak kecil dan dukungan struktural yang kuat mampu mengantarkan seorang penjual rokok menjadi orang nomor dua di Republik ini. ***
Editor : Dwi Puspitarini