Selama lebih dari dua tahun memimpin SPN Babel, perwira berpangkat Komisaris Besar Polisi itu dikenal tegas dalam urusan integritas. Ia membawa misi besar: membersihkan praktik pungutan liar (pungli) serta membangun budaya disiplin dan moralitas di lingkungan pendidikan calon anggota Polri.
Tegas Soal Integritas
Sejumlah personel SPN mengakui, sejak awal menjabat, Norul langsung menegaskan tidak boleh ada praktik pungli dalam bentuk apa pun. Ia bahkan melarang keras anak buahnya menjadi perantara pemberian uang atau fasilitas dari peserta didik.
Bagi Norul, harga diri lembaga dan tenaga pendidik adalah hal utama. Ia kerap mengingatkan bahwa wibawa institusi akan runtuh jika ada kompromi terhadap pelanggaran aturan.
“Zero pungli harus dimulai dari lembaga pendidikan,” tegasnya dalam berbagai kesempatan.
Ia juga membuka ruang pengaduan seluas-luasnya. Jika ada indikasi penyimpangan, baik melibatkan personel maupun dirinya sendiri, orang tua dan siswa dipersilakan melapor melalui mekanisme resmi yang tersedia.
Transparansi hingga Larangan Uang Tunai
Salah satu kebijakan yang cukup menyita perhatian adalah larangan membawa uang tunai di lingkungan SPN. Seluruh transaksi dilakukan melalui sistem transfer perbankan yang dapat dipantau orang tua.
Di awal pendidikan, orang tua peserta didik dikumpulkan dan dijelaskan secara rinci mengenai alokasi anggaran serta fasilitas yang diterima siswa. Langkah ini dilakukan untuk mencegah ruang abu-abu yang bisa dimanfaatkan oknum tertentu.
Menurut staf administrasi SPN, tata kelola keuangan dan administrasi kini berjalan lebih tertib dengan mengacu pada standar operasional prosedur (SOP). Pembangunan fasilitas pun disebut lebih terarah dan terukur.
Sederhana dan Turun ke Kebun
Di luar urusan kedinasan, sosok Norul dikenal jauh dari kesan mewah. Ia disebut hanya menggunakan kendaraan dinas dan tak menunjukkan gaya hidup berlebihan.
Di sela aktivitas, ia justru memilih mengolah lahan kosong di lingkungan SPN menjadi kebun produktif. Mengenakan pakaian santai dan sepatu bot, ia turun langsung menanam dan merawat tanaman tanpa memerintah bawahan.
Program pengolahan limbah kantin hingga pemanfaatan lahan pertanian itu juga dimaksudkan sebagai upaya peningkatan kesejahteraan personel, tanpa harus mencari pemasukan dari cara-cara yang melanggar aturan.
Tekankan Disiplin dan Moral
Di bidang pendidikan, Norul memberi perhatian besar pada pembentukan karakter. Ia menekankan pentingnya ketepatan waktu, disiplin, serta komitmen terhadap aturan.
Bagi peserta didik Muslim, ia mendorong pelaksanaan salat lima waktu berjamaah. Bahkan, ia kerap hadir sebagai imam di masjid SPN. Pendidikan moral dan spiritual disebutnya sebagai fondasi utama sebelum seorang siswa kelak terjun melayani masyarakat.
Norul juga mengadopsi filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, bahwa seorang pendidik harus memberi teladan di depan, membangun semangat di tengah, dan memberi dorongan dari belakang.
Tantangan Mengubah Kebiasaan Lama
Ia tak menampik, perubahan budaya bukan perkara mudah. Menghapus kebiasaan lama yang sudah mengakar tentu memunculkan resistensi. Namun, menurutnya, komitmen pimpinan harus tegak lurus.
“Perubahan tidak cukup dengan retorika. Harus ada contoh nyata,” ujarnya.
Dengan pendekatan keteladanan, transparansi, serta penguatan karakter, Norul berharap SPN menjadi tempat lahirnya anggota Polri yang bersih dan berintegritas.
Editor : Uways Alqadrie