KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi anggapan miring soal kemampuannya dalam mengelola keuangan negara. Ia menegaskan, pengalaman panjangnya di bidang fiskal menjadi bekal kuat dalam menjaga stabilitas anggaran.
Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (6/4/2026), Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah masih memiliki cadangan fiskal yang cukup besar melalui Saldo Anggaran Lebih (SAL). Dana ini berfungsi sebagai bantalan saat kondisi ekonomi global tidak menentu.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Soekarno-Hatta Hari Ini: 12 Penerbangan Dialihkan, Puluhan Pesawat Gagal Mendarat
SAL sendiri merupakan akumulasi sisa anggaran dari tahun-tahun sebelumnya yang disimpan sebagai cadangan negara. Fungsinya bukan untuk kebutuhan kas harian, melainkan untuk menjaga stabilitas fiskal, investasi jangka pendek, hingga menghadapi potensi krisis.
Menurut Purbaya, keberadaan dana tersebut menjadi penting di tengah tekanan global, termasuk lonjakan harga minyak mentah akibat konflik di kawasan Timur Tengah. Dengan adanya SAL, pemerintah dinilai masih memiliki ruang untuk menjaga ketahanan APBN.
Saat ini, total SAL disebut mencapai sekitar Rp420 triliun. Sebagian besar ditempatkan di sektor perbankan, sementara sisanya berada di Bank Indonesia.
Lebih jauh, Purbaya juga merespons kritik yang meragukan kapasitasnya. Ia menegaskan telah lama berkecimpung dalam perhitungan anggaran negara, bahkan sejak awal 2000-an.
Ia mengaku pernah terlibat langsung dalam perhitungan dampak kebijakan besar, termasuk saat pemerintah menaikkan harga BBM secara signifikan pada 2005. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa dirinya memahami detail pengelolaan fiskal.
Baca Juga: Polisi Nakal Bisa Dilaporkan dari HP! Cukup Scan QR Code, Ini Syaratnya
Tak hanya itu, ia menyebut Indonesia pernah memiliki model perhitungan yang mampu memproyeksikan perubahan asumsi harga minyak hingga satu dekade ke depan.
Dengan pengalaman tersebut, Purbaya memastikan dirinya mampu menjalankan tugas sebagai bendahara negara dan menjaga kestabilan anggaran di tengah dinamika ekonomi global.
Editor : Uways Alqadrie