KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Julukan “termul” yang sempat bernada sindiran di media sosial justru diterima dengan santai oleh kalangan relawan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Bahkan, sebagian dari mereka mengaku tidak mempermasalahkan label tersebut.
Sekretaris Jenderal Projo, Freddy Alex Damanik, menyebut istilah “termul” yang merupakan singkatan dari “Ternak Mulyono” kini tak lagi dianggap sebagai ejekan.
Baca Juga: Eks Polisi Bunuh dan Bakar Pacar di Indramayu Dituntut Seumur Hidup, Ini Fakta Sidangnya
Ia menegaskan, relawan justru bangga jika dikaitkan dengan dukungan terhadap ide dan visi yang mereka yakini.
Menurutnya, dukungan yang diberikan relawan bukan semata-mata kepada sosok, melainkan kepada gagasan yang dinilai sejalan. Karena itu, label apa pun yang disematkan tidak menjadi persoalan selama tujuan dan arah perjuangan tetap jelas.
Polemik sebutan “termul” kembali mencuat setelah disinggung oleh Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, dalam konteks isu ijazah Jokowi yang kembali ramai diperbincangkan.
Freddy memastikan, relawan Jokowi tidak terlibat dalam serangan terhadap JK terkait polemik tersebut.
Ia menilai, sejumlah narasi yang beredar, termasuk yang menyeret relawan, merupakan hasil manipulasi, bahkan ada yang disebut berasal dari rekayasa kecerdasan buatan (AI).
Di sisi lain, persoalan ijazah Jokowi disebutnya sudah masuk ranah hukum dan tengah ditangani aparat. Karena itu, ia meminta semua pihak menghormati proses yang berjalan.
Sebelumnya, JK mengungkapkan kekesalannya karena namanya ikut terseret dalam polemik tersebut. Ia juga mendorong agar polemik segera diakhiri dengan menunjukkan dokumen yang dipersoalkan.
Meski demikian, JK menegaskan dirinya meyakini keaslian ijazah Jokowi. Ia juga mengingatkan perannya di masa lalu dalam perjalanan politik Jokowi hingga bisa maju dan menang dalam kontestasi nasional.
Baca Juga: Daftar Lengkap 18 Poin UU Pekerja Rumah Tangga: Wajib Dapat BPJS, Jam Kerja Harus Jelas
Sementara itu, sosok yang sempat mengaitkan JK dalam isu tersebut, Rismon Hasiholan Sianipar, menyatakan video yang beredar merupakan hasil rekayasa AI dan dirinya justru menjadi korban dari konten yang dimanipulasi.
Situasi ini menunjukkan polemik yang berkembang tak hanya soal substansi, tetapi juga dipengaruhi oleh penyebaran informasi yang belum tentu valid di ruang digital.
Editor : Uways Alqadrie