Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Cara Maulani Al Amin Lawan Kecanduan Gadget Anak: Ganti HP dengan Buku, Hasilnya Menakjubkan!

Nasya Rahaya • Sabtu, 25 April 2026 | 15:22 WIB
KEBIASAAN: Hanna Fatima Amizah, putri semata wayang Maulani Al Amin yang mulai gemar membaca buku sedang asyik memilih buku. (IST)
KEBIASAAN: Hanna Fatima Amizah, putri semata wayang Maulani Al Amin yang mulai gemar membaca buku sedang asyik memilih buku. (IST)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Setiap Ahad, rumah Maulani Al Amin berubah jadi agak riuh. Hari itu satu-satunya kesempatan putrinya, Hanna Fatima Amizah, main HP sepuasnya. Sisanya, enam hari penuh, layar itu tersimpan jauh dari jangkauan.

Keputusan itu bukan tanpa alasan. Pria yang akrab disapa Maul tersebut melihat betapa cepat gawai bisa menyedot perhatian anaknya yang kini berusia 6 tahun. Hanna lekat dengan Avatar World Pazzu, game yang membuatnya lupa waktu. Setiap melihat HP tergeletak di meja, matanya langsung berbinar.

"Sebentar aja, Ayah. Hanna cuman mau lihat rumah Hanna di game," begitu rengekan yang kerap Maul dengar.

Daripada sekadar melarang, ia memilih menghadirkan pengganti. Pilihannya jatuh pada buku. Klise, ia akui sendiri. Tapi ia tidak punya pilihan lain yang lebih masuk akal.

Baca Juga: Canggih! Buku Anak dari Balikpapan Ini Pakai Barcode dan Animasi, Ubah Riset Doktoral Jadi Cerita Seru

Ia dan istrinya mulai membelikan Hanna berbagai jenis buku-buku anak, Iqro bersampul hijau tosca lengkap dengan nama Hanna di sampulnya, buku cerita nabi, hingga buku bergambar soal transportasi dan hewan-hewan. Semuanya dipilih dengan ilustrasi menarik agar Hanna mau melirik.

Hasilnya pelan-pelan terlihat. Hanna di usia 5 tahun sudah hafal alfabet dan huruf hijaiyah. Sisi positif lain yang tidak terduga: karena HP hanya boleh dimainkan hari Minggu, Hanna jadi hafal nama-nama hari. Ia menghitung mundur setiap hari menuju hari istimewa itu.

Bagi Maul, perjalanan ini juga memaksanya berkaca jauh ke belakang. Ia bukan pembaca sejak kecil. Nilai-nilainya di sekolah dan kuliah biasa saja, tidak ada yang istimewa. Titik baliknya datang pada 2010, ketika adiknya mengenalkan buku The Diary of a Wimpy Kid. "Aku tertawa, terhibur, dan tanpa sadar terus membaca hingga halaman terakhir," kenangnya.

Dari situ ia mulai merambah bacaan lain seperti Detective Conan, Sherlock Holmes, lalu perlahan beralih ke karya sastra yang lebih berat. Ia sadar, kunci membaca bukan paksaan, tapi menemukan cerita yang tepat.

Baca Juga: Petualangan BoVa & Friends, Karakter Lokal dari Balikpapan Ini Siap Rebut Hati Anak Indonesia

Pengalaman itu kini ia bawa ke cara mendidik Hanna. Sebagai jurnalis, ia tahu betul bahwa membaca adalah fondasi segalanya. Tapi menularkan kebiasaan itu ke anak ternyata soal yang berbeda.

"Anak-anak itu peniru, bukan penurut. Kalau orang tuanya sibuk scrolling, jangan harap anak antusias dengan buku," ujarnya.

Ia pun mulai membiasakan diri membaca di depan Hanna. Buku cerita bergambar jadi pilihan utama, dibacakan dengan ekspresi dan suara dramatis, kadang sambil ngemil bersama. Tujuannya satu: membuat membaca terasa seperti pengalaman menyenangkan, bukan tugas.

"Anak usia lima atau enam tahun itu seniman visual terbaik. Mereka baca buku tentang kucing, tapi di kepala mereka si kucing lagi naik jet tempur," katanya sembari tertawa.

Maul juga tidak bisa mengabaikan data. Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 mencatat skor kemampuan membaca pelajar Indonesia berada di angka 358, jauh tertinggal dari Singapura 543, Malaysia 388, dan Thailand 384. Baginya, angka itu bukan sekadar statistik pendidikan.

"Daya saing generasi kita di masa depan bisa terancam kalau budaya membaca tidak segera diperbaiki," katanya. Ia menyebut ada tiga penyebab utama anak malas membaca yakni ketergantungan gawai yang menawarkan segalanya lewat video dan game, kurangnya teladan dari orang tua yang justru sibuk scrolling, dan buku yang tidak sesuai selera anak.

Baca Juga: Akui Ketua Kadin Kaltim Keponakannya, Rudy Mas'ud Singgung Surat Diskresi dan Independensi Organisasi

Solusinya sederhana, menurut Maul, orang tua bisa mengajarkan anak perlakukan buku seperti camilan favorit. Pilih cerita yang sesuai selera anak, bacakan dengan ekspresi, dan jadikan membaca sebagai ritual yang menyenangkan, bukan kewajiban yang membosankan.

Untuk Hanna, prosesnya masih panjang. Setiap Ahad, saat HP kembali ke tangannya, matanya masih berbinar seperti melihat harta karun. Tapi di hari-hari lainnya, ia sudah mulai mengenal bahwa ada dunia lain yang tak kalah seru, dunia yang tersimpan di antara halaman-halaman buku. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Minat Baca Anak #Batasi Gadget #Maulani Al Amin #Hanna Fatima Amizah #literasi digital