KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Gadget kerap menjadi “penyelamat” bagi orang tua saat anak mulai rewel, terutama di ruang publik. Namun di balik kemudahan tersebut, ada dampak yang mulai mengkhawatirkan, termasuk terhadap minat baca anak sejak usia dini.
Psikolog klinis Ira Mayang Sari menilai fenomena anak yang akrab dengan gadget memang tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Ada manfaat praktis, tetapi juga risiko perkembangan yang perlu diwaspadai.
“Fenomena ini fenomena yang sedang menjamur tapi kita mendapatkan dua sisi sekaligus. Dua sisi positifnya adalah orang tua itu merasa terbantukan dengan penggunaan gadget sehingga anak-anak itu tidak rewel,” ujar psikolog di Klinik Tumbuh Kembang Anak Growkidz Samarinda.
Namun, di sisi lain, penggunaan gadget memicu respons kimia di otak yang membuat anak merasa senang secara instan. Sehingga berdampak pada cara anak memproses pengalaman, termasuk dalam menerima aktivitas yang lebih “lambat” seperti membaca.
Baca Juga: Kalahkan Nasional! Skor Gemar Membaca Samarinda Melejit 84,86, Jadi yang Tertinggi di Kaltim
“Pada saat anak itu menggunakan gadget, ada aktivitas neurotransmitter, dopamin itu banjir. Jadi anak itu akan punya sensasi di mana dia senang, happy,” jelas Ira.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat anak terbiasa dengan kepuasan cepat. Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan proses, seperti membaca buku, menjadi kurang menarik di mata anak. “Anak itu belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu itu ternyata bisa segampang itu. Akhirnya itu menjadi pola,” lanjutnya.
Ketika anak sudah terbiasa dengan stimulus instan, mereka cenderung sulit bertahan dalam aktivitas yang membutuhkan fokus lebih lama. Termasuk saat diperkenalkan dengan buku.
Hal itu juga berkaitan dengan respons emosional anak. Ketika akses gadget dibatasi, anak bisa menunjukkan penolakan yang cukup kuat. “Ketika dia enggak dapat akses, akhirnya si anak ini menjadi tantrum,” katanya.
Baca Juga: Cara Maulani Al Amin Lawan Kecanduan Gadget Anak: Ganti HP dengan Buku, Hasilnya Menakjubkan!
Lebih jauh, Ira mengingatkan adanya dampak pada perkembangan otak yang berpengaruh terhadap kemampuan anak dalam memahami dunia, termasuk melalui literasi.
“Fenomena ini ternyata bisa berdampak sekali terhadap pertumbuhan anak, terutama otak. Otak itu akhirnya jadi blocking karena terlalu banyak aktivitas,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat anak semakin terbiasa dengan pengalaman visual instan, sementara stimulasi melalui membaca yang membutuhkan imajinasi dan pemrosesan informasi menjadi terabaikan.
Akibatnya, minat baca anak berpotensi menurun karena mereka tidak terbiasa menikmati proses berpikir yang lebih kompleks. Dunia anak pun menjadi terbatas pada apa yang disajikan layar. Oleh sebab itu, Ira menegaskan pentingnya peran orang tua dalam mengatur penggunaan gadget sejak dini. Bukan hanya soal durasi, tetapi juga tujuan penggunaannya.
“Enggak apa-apa kok digunakan pada anak-anak, tapi tentu dengan batasan-batasan tertentu yang disesuaikan dengan usianya,” tegasnya. Dia mengingatkan, jika tidak dikontrol, kebiasaan ini bukan hanya berdampak pada perilaku, tetapi juga bisa mengikis minat baca anak secara perlahan, yang justru menjadi fondasi penting bagi perkembangan kognitif mereka di masa depan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo