KALTIMPOST.ID - kehadiran Bobibos merupakan sebuah inovasi bahan bakar nabati yang digadang-gadang menjawab permasalahan atas melambungnya biaya hidup. Nama ini merupakan singkatan dari "Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!".
Kehadiran Bobibos ini memberikan angin segar di tengah fluktuasi harga minyak dunia yang memberatkan masyarakat kecil.
Bahan bakar ini tidak berasal dari fosil, melainkan memanfaatkan limbah jerami atau sisa panen padi yang biasanya hanya dibakar oleh petani.
Meski berasal dari limbah, kualitas yang dihasilkan justru melampaui bensin standar yang ada di pasaran saat ini.
Baca Juga: SE Mendikdasmen No 7 Tahun 2026 Resmi Terbit, Guru Honorer Cuma Sampai 2026?
Keunggulan utama Bobibos adalah angka oktan tinggi yang hasilkan. Banyak yang awalnya meragukan bagaimana limbah pertanian bisa menggerakkan mesin kendaraan dengan tenaga maksimal.
Namun, hasil pengujian secara ilmiah telah membuktikan bahwa inovasi lokal ini mampu bersaing dengan bahan bakar kelas dunia yang harganya jauh lebih mahal.
Berdasarkan data resmi dari hasil uji laboratorium Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas), kualitas bahan bakar ini berada pada level yang sangat mengesankan.
Angka oktan atau RON yang tercatat mencapai 98,1, sebuah angka yang biasanya hanya ditemukan pada bahan bakar premium untuk mobil-mobil mewah.
Pengujian ini dilakukan dengan metode standar internasional yang sangat ketat, sehingga hasilnya akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara teknis bagi keamanan mesin kendaraan.
Hal yang paling mencolok dari inovasi ini tentu saja adalah harganya yang sangat terjangkau. Di saat bahan bakar dengan kualitas serupa dijual dengan harga belasan hingga puluhan ribu rupiah, produk ini justru dipatok pada kisaran harga Rp4.000 hingga Rp5.000 saja per liter. Nilai ini bahkan lebih rendah dibandingkan harga bensin subsidi yang ada sekarang.
Di balik murahnya harga jual ini terletak pada efisiensi proses produksi dan pemilihan bahan baku yang melimpah. PT Inti Sinergi Formula mengembangkan sebuah mesin biokimia khusus yang mampu mengolah sisa tanaman padi menjadi energi siap pakai.
Karena bahan bakunya berupa limbah yang selama ini tidak bernilai, biaya produksinya bisa ditekan hingga di bawah lima ribu rupiah.
Saat ini, pengembangan bahan bakar tersebut sudah mulai merambah pasar internasional melalui kerja sama produksi massal di Timor Leste.
Baca Juga: Guru Belum Sertifikasi? Lakukan Hal Ini Sebelum 30 April atau Kesempatan Hilang Begitu Saja!
Di dalam negeri sendiri, pemerintah melalui Kementerian ESDM telah memberikan respons positif dan terus memantau pengembangannya agar bisa menjadi energi alternatif yang ramah lingkungan.
Inovasi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan negara terhadap impor bensin dari luar negeri dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor energi terbarukan.***
Editor : Dwi Puspitarini