KALTIMPOST.ID - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik Sudaryati Deyang, meminta seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak memasak menu mi tanpa didampingi juru masak andal. Kebijakan tersebut dilakukan untuk mencegah keracunan pangan setelah 147 anak mengalami gangguan pencernaan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jakarta Timur. Dari jumlah tersebut, 33 anak sempat menjalani perawatan sebelum akhirnya diperbolehkan pulang pada Senin (11/5).
Nanik menjelaskan pihaknya sebenarnya telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh SPPG agar lebih berhati-hati dalam mengolah menu mi. Menurutnya, makanan berbahan mi basah memiliki risiko cepat basi apabila tidak diolah dengan teknik yang tepat.
“Kami dari BGN pusat sebetulnya sudah membuat surat edaran agar tidak memasak mi jika belum punya chef andal yang menguasai betul bagaimana teknik memasak mi agar tidak cepat basi. Kami juga sudah menyosialisasikan melalui kepala regional dan koordinator wilayah,” kata Nanik melalui akun Instagram resmi @nanik_deyang dan @sidakbgn yang dikutip dari Antaranews.com Selasa (12/5).
Baca Juga: Tegas! 1.780 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi MBG Disetop, Ada Apa?
Menu Bakmi Diduga Jadi Penyebab Gangguan Pencernaan
Nanik mengungkapkan para siswa mengalami gangguan pencernaan setelah menyantap menu bakmie Djawa, ayam suwir, pangsit tahu kukus, tauge rebus, timun, tomat, jamur krispi, dan semangka pada Jumat (8/5).
Ia kemudian melakukan inspeksi mendadak ke dapur MBG di Jakarta Timur yang menyiapkan makanan tersebut. Dalam sidak itu, BGN mengevaluasi proses pengolahan hingga penyimpanan makanan yang diduga menjadi pemicu masalah kesehatan para siswa.
“Minggu malam saya sidak ke dapur yang mengolah MBG dan menjadi penyebab 147 anak mengalami gangguan pencernaan di Jakarta Timur, dimana 33 diantaranya sempat dirawat, namun hari Senin (11/5) kemarin sudah pulang semua,” ujar Nanik yang dikutip dari Antaranews.com Selasa (12/5).
Kasus tersebut kembali memunculkan perhatian terhadap standar keamanan pangan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. BGN menilai pengawasan pengolahan makanan perlu diperketat, terutama pada menu yang mudah mengalami penurunan kualitas dalam waktu singkat.
Baca Juga: Misteri 21 Ribu Motor Listrik MBG, Menkeu Purbaya: Tahun Lalu Kita Tolak!
Tujuh Kasus Gangguan Pencernaan Disebabkan Menu Mi
Menurut data BGN, selama Program MBG berjalan sekitar 1,5 tahun di Jakarta, telah terjadi 10 Kejadian Luar Biasa (KLB) gangguan pencernaan. Dari jumlah itu, tujuh kasus disebut berkaitan dengan menu mi.
Nanik mengaku terkejut karena menu mi kembali digunakan, padahal sebelumnya kasus serupa juga pernah terjadi di wilayah Jakarta Timur akibat menu spaghetti.
“Agak kaget waktu dikabari menu mi lagi yang dipakai, karena sebulan sebelumnya di Jakarta Timur juga menu spaghetti menjadi penyebab beberapa anak gangguan perut, bahkan sempat ada yang dirawat di rumah sakit yang sama,” ucapnya.
BGN menilai penggunaan mi basah atau mi kuning segar memang membutuhkan perhatian khusus. Kandungan air yang tinggi membuat bahan makanan tersebut mudah menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme apabila proses penyimpanan dan pengolahannya tidak sesuai standar.
Karena itu, BGN meminta seluruh dapur MBG lebih selektif dalam menentukan menu makanan. Selain memastikan kualitas bahan baku, petugas dapur juga diminta memahami teknik memasak dan penyimpanan pangan agar makanan tetap aman dikonsumsi siswa.***
Baca Juga: Kapal Tenggelam di Malaysia Diduga Berpenumpang WNI: 23 Orang Selamat, Belasan Masih Hilang
Editor : Dwi Puspitarini