KALTIMPOST.ID,JAKARTA–Suasana di Kantor Badan Gizi Nasional (BGN), Jalan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, mendadak tegang pada Rabu (3/6) pagi. Puluhan pegawai tertahan di luar area gedung dan lobi lantaran tidak diperkenankan masuk ke ruang kerja oleh petugas keamanan. Pengamanan di lingkungan instansi tersebut juga diperketat secara drastis.
Pantauan di lokasi menunjukkan, para pegawai yang mengenakan seragam biru terpaksa berdiri berkelompok dan duduk-duduk di sekitar pos keamanan serta area lobi. Mereka diminta menunggu arahan lebih lanjut terkait akses masuk ke dalam gedung.
“Nanti di lobi aja ya, belum boleh naik ke atas,” ujar salah seorang petugas keamanan yang berjaga di gerbang masuk.
Baca Juga: Segini Kekayaan Dadan Hindayana, Eks Kepala BGN yang Dicopot Prabowo, Tembus Rp 9 Miliar!
Tidak hanya pegawai, pengetatan ini juga berdampak pada pelayanan publik. Aktivitas keluar-masuk tamu dijaga ketat, dan masyarakat yang memiliki keperluan kedinasan dilarang masuk karena operasional kantor belum berjalan normal.
Salah seorang tamu asal Palembang, Dimas (bukan nama sebenarnya), mengaku kecewa lantaran tidak bisa masuk untuk mengurus keperluannya. "Saya dari Palembang, sudah delapan kali ke sini. Cuma sekarang tidak boleh masuk, katanya belum tentu ada pelayanan," keluhnya.
Selain petugas keamanan internal BGN, sejumlah personel TNI berseragam lengkap dan bersenjata juga disiagakan di sekitar pos keamanan untuk mempertebal penjagaan.
Situasi tak biasa ini diduga kuat berkaitan dengan adanya pergantian pucuk pimpinan di tubuh Badan Gizi Nasional. Hal ini terlihat dari jajaran karangan bunga yang memenuhi halaman kantor.
Salah satu karangan bunga mencantumkan ucapan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas pemberhentian tiga pejabat teras BGN, yakni Dadan Hindayana, Sony Sonjaya, dan Lodewyk Pusung. Karangan bunga tersebut sekaligus berisi ucapan selamat kepada jajaran pimpinan baru BGN.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Badan Gizi Nasional terkait alasan penutupan akses gedung dan mekanisme transisi kepemimpinan tersebut.(*)
Editor : Thomas Priyandoko