KALTIMPOST.ID, YOGYAKARTA – Prestasi membanggakan ditorehkan Fulviana Ramadlonia Agung Putri. Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) itu berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana kedokteran pada usia 20 tahun 4 bulan.
Capaian tersebut membuat Fulviana menjadi salah satu lulusan termuda dalam prosesi wisuda UGM yang digelar pada Mei 2026. Usianya terpaut cukup jauh dibanding rata-rata lulusan sarjana pada periode yang sama yang berada di kisaran 22 tahun.
Baca Juga: Daftar Larangan Prabowo untuk Dapur MBG, dari Telur Dadar hingga Ayam Dipotong 14 Bagian
Perjalanan akademiknya memang berbeda dari kebanyakan mahasiswa. Sejak kecil, Fulviana sudah memasuki bangku sekolah dasar pada usia yang relatif muda. Saat menempuh pendidikan menengah pertama, ia mengikuti program percepatan belajar sehingga dapat menyelesaikan jenjang SMP lebih cepat.
Berkat akselerasi tersebut, putri ketiga dari empat bersaudara itu berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi saat usianya belum genap 17 tahun. Langkah itu membuka jalan baginya untuk menuntaskan pendidikan kedokteran lebih awal dibanding rekan-rekan seusianya.
Meski meraih predikat sebagai salah satu wisudawan termuda, Fulviana mengaku tidak pernah menjadikan usia sebagai target utama. Fokusnya selama kuliah adalah menyelesaikan setiap tahapan pendidikan dengan baik dan menjaga konsistensi belajar.
Tantangan Selama Kuliah
Di balik pencapaiannya menyelesaikan pendidikan kedokteran pada usia muda, Fulviana Ramadlonia Agung Putri mengaku sempat menghadapi berbagai tantangan selama menjalani perkuliahan.
Mahasiswi UGM itu mengatakan tekanan terbesar muncul pada masa awal kuliah. Sebagai mahasiswa yang usianya lebih muda dibanding sebagian besar teman seangkatannya, ia harus beradaptasi dengan lingkungan akademik yang menuntut kedisiplinan tinggi dan ritme belajar yang padat.
Di sisi lain, Fulviana juga merasakan keinginan untuk menikmati masa remaja sebagaimana kebanyakan anak seusianya. Namun tuntutan pendidikan kedokteran membuatnya harus pandai membagi waktu antara belajar dan kehidupan pribadi.
Menurutnya, tekanan akademik yang sempat dirasakan perlahan berubah menjadi motivasi untuk terus berkembang. Ia berusaha mencari pola belajar yang paling sesuai sehingga mampu mengikuti seluruh proses pendidikan tanpa kehilangan semangat.
Baca Juga: Pengumuman Pemerintah Hari Ini, HET MinyaKita Segera Naik akibat Harga CPO Melonjak
Fulviana menilai keberhasilan selama kuliah tidak semata ditentukan oleh kecerdasan atau lamanya waktu belajar. Faktor yang lebih penting adalah kemampuan menjaga konsistensi, disiplin, dan komitmen terhadap target yang telah ditetapkan.
Dengan pendekatan tersebut, ia mampu menyelesaikan studi sesuai rencana dan meraih gelar sarjana kedokteran di usia yang masih sangat muda. Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga bahwa setiap tantangan dapat dilalui apabila dihadapi dengan ketekunan dan manajemen waktu yang baik.
Kisah Fulviana kini menjadi inspirasi bagi banyak pelajar untuk berani mengejar prestasi sejak dini tanpa mengabaikan keseimbangan antara pendidikan dan kehidupan pribadi.
Editor : Uways Alqadrie