KALTIMPOST.ID - Isu gaji guru Indonesia kembali menjadi perhatian publik. Namun, sorotan terbaru bukan semata membandingkan pendapatan guru dengan negara ASEAN lainnya, melainkan melihat kesenjangan kesejahteraan yang masih terjadi di dalam sistem pendidikan nasional.
Pembahasan mengenai gaji guru Indonesia menunjukkan adanya perbedaan kondisi yang cukup tajam antara guru ASN dan guru honorer. Di satu sisi, guru berstatus PNS maupun PPPK memperoleh gaji pokok serta berbagai tunjangan. Di sisi lain, banyak guru honorer masih mengandalkan penghasilan yang jauh di bawah kebutuhan hidup layak.
Data yang kerap dikutip dari Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) menunjukkan sekitar 74 persen guru honorer menerima penghasilan di bawah Rp2 juta per bulan. Fakta mengenai gaji guru Indonesia ini memunculkan pertanyaan besar tentang pemerataan kesejahteraan tenaga pendidik.
Kesenjangan Guru ASN dan Honorer
Persoalan utama yang mengemuka bukan hanya soal besaran gaji guru Indonesia, tetapi juga ketimpangan yang terjadi di antara sesama tenaga pendidik.
Guru ASN yang telah bersertifikasi umumnya memperoleh tambahan penghasilan dari tunjangan profesi, tunjangan kinerja, hingga insentif lainnya. Sementara itu, banyak guru honorer dan guru yayasan masih harus bertahan dengan pendapatan yang terbatas meski menjalankan tugas yang sama di lingkungan sekolah.
Kondisi tersebut membuat perbedaan tingkat kesejahteraan antarguru semakin terlihat. Bahkan, dalam beberapa kasus, guru yang mengajar di sekolah yang sama dapat menerima penghasilan dengan selisih yang sangat jauh.
Perbandingan dengan Negara ASEAN
Ketika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, posisi gaji guru Indonesia sebenarnya tidak bisa dilihat hanya dari nominal pendapatan bulanan.
Di Singapura, profesi guru dikenal memiliki tingkat remunerasi yang tinggi. Malaysia juga menawarkan penghasilan yang relatif lebih besar dibanding rata-rata pendapatan guru di Indonesia. Sementara Filipina dan Vietnam dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik.
Namun, jika yang dijadikan acuan adalah guru ASN secara keseluruhan, perbandingan menjadi lebih kompleks karena terdapat berbagai komponen tunjangan yang tidak selalu tersedia di negara lain.
Karena itu, klaim bahwa gaji guru Indonesia menjadi yang terendah di ASEAN lebih relevan jika merujuk pada kondisi mayoritas guru honorer.
Kualitas Pendidikan Dinilai Berkaitan dengan Kesejahteraan Guru
Sejumlah pemerhati pendidikan menilai peningkatan kualitas pembelajaran sulit berjalan optimal apabila sebagian guru masih menghadapi persoalan ekonomi dasar.
Pemerintah saat ini terus mendorong berbagai program pendidikan, mulai dari transformasi pembelajaran, digitalisasi sekolah, hingga peningkatan kompetensi guru. Namun, keberhasilan program tersebut dinilai juga bergantung pada kesejahteraan tenaga pendidik sebagai pelaksana utama di lapangan.
Menurut berbagai pandangan, guru yang memiliki kepastian penghasilan lebih baik akan lebih fokus menjalankan tugas pendidikan dan pengembangan diri.
Perhatian publik kini juga mengarah pada efektivitas penggunaan anggaran pendidikan yang secara konstitusi mencapai 20 persen dari APBN.
Pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah dana pendidikan tersedia, melainkan sejauh mana anggaran tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan guru, khususnya guru honorer yang masih berada di garis depan proses belajar mengajar.***
Editor : Dwi Puspitarini