KALTIMPOST.ID - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan tetap dilanjutkan karena mendapat dukungan dari sebagian besar siswa di Indonesia. Dalam pengembangannya, pemerintah juga membuka peluang melibatkan kantin sekolah sebagai penyedia makanan bergizi untuk mendukung pelaksanaan program tersebut.
Menurut Abdul Mu'ti, mayoritas siswa penerima manfaat menginginkan program MBG tetap berjalan. Berdasarkan data yang dimiliki pemerintah, jumlah penerima MBG mencapai sekitar 43,4 juta siswa atau sekitar 80,94 persen dari total 53,5 juta siswa di Indonesia.
"Jumlah murid yang menerima MBG itu sekitar 43,4 juta dari total 53,5 juta murid di Indonesia atau sekitar 80,94 persen. Sebagian besar mengharapkan program ini tetap dilanjutkan," ujar Abdul Mu'ti saat kunjungan kerja ke Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (13/6), dikutip dari AntaraNews, Minggu (14/6/2026).
Data penerima manfaat program kini telah terintegrasi dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Dengan sistem tersebut, pemerintah memiliki informasi yang lebih lengkap mengenai penerima program berdasarkan nama, alamat, dan sekolah sehingga penyaluran bantuan dapat dilakukan secara lebih tepat.
Baca Juga: Cek Faktanya! BGN Bantah Keras Tuduhan Pembagian Dana Program MBG kepada Presiden
Skema Penyaluran MBG Akan Disesuaikan
Meski program tetap berjalan, pemerintah berencana melakukan sejumlah penyesuaian dalam mekanisme pelaksanaannya. Salah satu perubahan yang dipertimbangkan adalah penentuan sasaran penerima manfaat yang lebih terfokus kepada siswa dan sekolah yang benar-benar membutuhkan dukungan program tersebut.
Dalam skema baru yang sedang disiapkan, sekolah yang dinilai memiliki kondisi ekonomi lebih baik berpotensi tidak lagi menjadi prioritas penerima MBG. Sebaliknya, sekolah dengan siswa yang lebih membutuhkan akan mendapatkan perhatian lebih besar dalam penyaluran program.
Pemerintah berharap penyesuaian tersebut dapat meningkatkan efektivitas penggunaan anggaran sekaligus memastikan manfaat program diterima oleh kelompok yang paling membutuhkan.
Kantin Sekolah Bisa Menjadi Penyedia Makanan Bergizi
Selain perubahan sasaran penerima, pemerintah juga membuka peluang agar penyediaan makanan dalam Program MBG tidak hanya dilakukan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kantin sekolah maupun dapur sekolah berpeluang ikut terlibat dalam penyediaan makanan bergizi bagi siswa.
Namun, pelaksanaannya tetap harus berada di bawah koordinasi dan pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN). Dengan demikian, standar kualitas, keamanan, dan nilai gizi makanan yang diberikan kepada siswa tetap dapat dijaga.
Abdul Mu'ti juga menegaskan bahwa kasus keracunan makanan yang sempat terjadi di beberapa lokasi tidak menjadi alasan untuk menghentikan program secara keseluruhan. Menurutnya, evaluasi harus dilakukan pada dapur penyedia makanan yang bermasalah, bukan menghentikan seluruh program.
"Kalau ada keracunan, yang dihentikan adalah dapur yang tidak benar untuk dievaluasi, sedangkan SPPG yang baik tetap dilanjutkan. Bahkan, dapur yang tidak memenuhi standar bisa dicabut izin operasionalnya," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Program MBG merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia. Selain mendukung prestasi akademik, program ini juga bertujuan membantu pemenuhan kebutuhan gizi agar anak-anak tumbuh sehat dan memiliki daya saing yang lebih baik di masa depan.
"Generasi ini harus dibangun baik akademiknya maupun fisiknya. Fisik dibangun melalui MBG, sehingga anak-anak Indonesia dapat tumbuh sehat dan siap bersaing di masa depan," kata Abdul Mu'ti.
Dengan dukungan mayoritas siswa dan rencana perbaikan mekanisme pelaksanaan, pemerintah memastikan Program Makan Bergizi Gratis tetap menjadi salah satu program prioritas dalam mendukung kesehatan dan perkembangan generasi muda Indonesia.***
Editor : Dwi Puspitarini