Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Mati Listrik Berulang, Pemadaman Meluas di Sumatra dan Jawa, Aktivis Desak Dirut PLN Mundur

Hernawati • Senin, 22 Juni 2026 | 16:54 WIB
Ilustrasi mati lampu.
Ilustrasi mati lampu.

KALTIMPOST.ID, Pemadaman listrik terjadi di berbagai wilayah di Indonesia.

Setelah sempat terjadi pemadaman listrik di sebagian wilayah Sumatra, kini pemadaman listrik turut terjadi di wilayah Pulau Jawa.

Sejumlah wilayah yang mengalami pemadaman listrik di antaranya Jawa Timur khususnya Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. 

Wilayah-wilayah itu mengalami mati listrik sejak pekan lalu dengan waktu berbeda-beda. Mulai dari dua hingga lima jam dalam sehari. 

Bahkan pekan lalu beberapa jalan protokol di Surabaya juga mengalami mati listrik berjam-jam sampai malam hari sehingga cukup berbahaya bagi pengendara.

Penjelasan PLN

Terkait adanya pemadaman listrik, PT PLN (Persero) menjelaskan bahwa langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga keandalan sistem kelistrikan saat pasokan listrik mengalami gangguan.

PLN juga melakukan percepatan pemulihan pembangkit guna mengoptimalkan pasokan dari pembangkit lain.

“PLN terus bekerja sama melakukan percepatan pemulihan,” ujar Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN Gregorius Adi Trianto.

Dirut PLN Diminta Mundur

Aktivis yang juga mantan Koordinator Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), Kaharuddin menilai pemadaman listrik merupakan bukti lemahnya kepemimpinan dan tata kelola di tubuh PT PLN.

Alumni Universitas Negeri Riau itu menegaskan Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo harus bertanggung jawab secara penuh dan mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dari jabatannya.

Bagi Kaharuddin, permintaan maaf kepada masyarakat merupakan langkah yang wajar, namun tidak cukup menjawab kerugian yang dialami masyarakat.

“Yang dibutuhkan masyarakat adalah kepastian layanan dan jaminan bahwa kejadian serupa tidak terus berulang. Karena itu, Dirut PLN harus bertanggung jawab secara moral dan profesional atas peristiwa ini,” tutur Kaharuddin.

Ia menegaskan listrik bukan sekadar komoditas, melainkan infrastruktur strategis yang menopang aktivitas rumah tangga, pendidikan, pelayanan kesehatan, industri, UMKM, hingga berbagai sektor ekonomi nasional.

“Karena itu, harus ada pertanggungjawaban yang jelas dari pimpinan tertinggi perusahaan,” sambungnya.

Ia juga menilai gangguan yang berulang menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar terkait manajemen risiko, kesiapan infrastruktur, serta kemampuan mitigasi dalam menghadapi berbagai potensi gangguan pada sistem kelistrikan nasional.

“BUMN strategis harus dipimpin oleh orang-orang yang memiliki kemampuan teknokratis yang kuat, kepemimpinan yang efektif, serta sensitivitas tinggi terhadap kepentingan masyarakat.”

"Jika gangguan besar terus berulang dan masyarakat terus dirugikan, maka pergantian kepemimpinan merupakan sesuatu yang wajar untuk dipertimbangkan,” katanya.

Editor : Hernawati
#mati listrik #pln #pemadaman listrik #listrik