Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Surabaya Green Force Run 2026 Diikuti 6.000 Pelari dari 10 Negara, Sport Tourism Kian Menguat

Redaksi • Minggu, 28 Juni 2026 | 16:17 WIB
Ribuan peserta memadati kawasan Tugu Pahlawan saat mengikuti Surabaya Green Force Run 2026, Minggu (28/6). Ajang lari tahunan ini diikuti sekitar 6.000 pelari dari 119 kota di Indonesia dan 10 negara. (DBL INDONESIA)
Ribuan peserta memadati kawasan Tugu Pahlawan saat mengikuti Surabaya Green Force Run 2026, Minggu (28/6). Ajang lari tahunan ini diikuti sekitar 6.000 pelari dari 119 kota di Indonesia dan 10 negara. (DBL INDONESIA)

 

KALTIMPOST.ID, SURABAYA – Surabaya Green Force Run (GFR) 2026 kembali mengajak ribuan pelari meramaikan sekaligus menghijaukan Kota Surabaya. Digelar pada Minggu (28/6), ajang lari tahunan ini diikuti sekitar 6.000 peserta dengan titik start dan finis di kawasan Tugu Pahlawan.

Event yang diselenggarakan DBL Indonesia bersama Pemerintah Kota Surabaya tersebut menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733. Kegiatan ini juga masuk dalam perayaan ulang tahun Persebaya yang jatuh setiap 18 Juni. Tahun ini, klub kebanggaan Kota Pahlawan tersebut genap berusia 99 tahun.

Memasuki penyelenggaraan kelima, Surabaya Green Force Run kembali mengusung tema “Lebih dari Lari”. Tema tersebut menegaskan bahwa GFR bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan ruang perayaan kota, komunitas, dan gaya hidup sehat.

Baca Juga: Catatan Rusdiansyah Aras: Takdir di Pancuran Wudu Km 36: Pesan Langit Mantan Wali Kota

Melalui kegiatan ini, peserta diajak menikmati wajah Surabaya dari berbagai sisi, mulai sejarah, budaya, hingga perkembangan kotanya melalui pengalaman berlari.

Presiden Persebaya sekaligus Founder dan CEO DBL Indonesia, Azrul Ananda, mengatakan sejak awal GFR dirancang sebagai sarana memperkenalkan Surabaya kepada masyarakat Indonesia maupun dunia.

Menurutnya, setiap peserta diharapkan membawa pulang pengalaman yang berkesan tentang Surabaya.

“Kami ingin setiap peserta pulang dengan pengalaman tentang Surabaya, mulai dari budayanya, keramahan warganya, sampai energi kotanya. Harapannya, mereka bukan hanya ingin kembali berlari di sini, tetapi juga kembali berkunjung ke Surabaya,” ujarnya.

Antusiasme peserta terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada edisi 2026, lebih dari 6.000 pelari ambil bagian. Mereka berasal dari 119 kota di 24 provinsi di Indonesia.

Menariknya, lebih dari 50 persen peserta berasal dari luar Surabaya. Hal ini menunjukkan daya tarik GFR sebagai salah satu agenda lari terbesar di Indonesia.

Tak hanya peserta domestik, GFR 2026 juga diikuti pelari dari 10 negara, yakni Indonesia, Prancis, Italia, Jepang, Kenya, Korea Selatan, Belanda, Singapura, Inggris, dan Amerika Serikat.

Kehadiran peserta internasional menjadi bukti bahwa GFR semakin dikenal luas dan memiliki potensi besar dalam menggerakkan sektor sport tourism di Surabaya.

“Ketika peserta datang dari ratusan kota dan berbagai negara, dampaknya bukan hanya bagi event ini, tetapi juga bagi ekonomi kota, mulai dari hotel, kuliner, transportasi, hingga destinasi wisata yang ikut bergerak,” tambah Azrul.

Tahun ini panitia menghadirkan lima kategori lomba, yakni Kids Dash, Family Run, 5K, 10K, dan Half Marathon (21K).

Khusus kategori Half Marathon kembali mendapatkan verifikasi PB PASI. Dengan demikian, standar pengukuran jarak maupun pencatatan waktu memenuhi regulasi resmi dan hasilnya dapat diakui secara nasional.

Selain kompetisi, peserta juga diajak menikmati rute yang sarat nilai sejarah dan budaya. Berangkat dari kawasan Tugu Pahlawan, para pelari melintasi sejumlah ruas jalan utama dan ikon Kota Surabaya.

Baca Juga: Dua Pekan Berjalan, Dinkes Kaltim Masih Tunggu Hasil Investigasi Kemenkes di RSUD AWS

Rute tersebut menyajikan perpaduan bangunan bersejarah, kawasan modern, ruang terbuka hijau, hingga pusat aktivitas masyarakat yang menjadi wajah Kota Pahlawan saat ini.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, GFR juga menghadirkan berbagai aktivitas komunitas, hiburan, dan area festival di kawasan finis. Konsep ini memperkuat semangat bahwa GFR merupakan perayaan bersama yang menghubungkan olahraga, komunitas, dan identitas Kota Surabaya.

Pelari Mancanegara Ramaikan GFR 2026

Daya tarik Surabaya Green Force Run juga berhasil memikat pelari dari berbagai negara.

Dua di antaranya adalah Steven Dumont asal Prancis dan Mattia Nizardo dari Italia. Keduanya kini menetap di Labuan Bajo dan sengaja datang ke Surabaya untuk merasakan atmosfer GFR 2026.

Bagi Steven, mengikuti GFR menjadi pengalaman istimewa karena ia pernah tinggal di Surabaya sekitar satu dekade lalu.

“Kami mencari informasi tentang ajang lari di Indonesia dan menemukan rute menarik di Surabaya. Kebetulan saya punya ikatan emosional dengan kota ini karena pernah tinggal di sini selama satu tahun,” ujarnya.

Sementara itu, GFR 2026 menjadi ajang yang sangat emosional bagi Mattia. Pelari asal Padova, Italia, tersebut menjadikan lomba ini sebagai kompetisi pertamanya setelah menjalani operasi pada September tahun lalu.

“Ini kompetisi pertama saya pascaoperasi. Selama masa pemulihan saya hanya berlari ringan dua sampai tiga kali seminggu. Jadi, penampilan di Surabaya menjadi tolok ukur kesembuhan saya,” katanya.

Persaingan semakin menarik dengan hadirnya sejumlah pelari asal Kenya.

Salah satunya adalah Dennis Isika yang tahun lalu menjadi juara Half Marathon putra dengan catatan waktu 1 jam 14 menit 35 detik.

“Ini sudah ketiga kalinya saya mengikuti GFR. Saya semakin percaya diri dan berharap bisa mempertajam catatan waktu saya,” ungkap Dennis.

Hal senada disampaikan Jackline Nzivo, juara Half Marathon putri tahun lalu dengan waktu 1 jam 26 menit 58 detik.

Baca Juga: Siapkan 52.598 Kursi SMA dan SMK Negeri, Disdikbud Kaltim Tegaskan Tak Semua Lulusan SMP Tertampung di Sekolah Negeri

“Tahun ini saya lebih percaya diri untuk memberikan hasil terbaik,” ujarnya.

Lebih dari Lari, Wujudkan Mimpi hingga Ajang Reuni

Tema “Lebih dari Lari” benar-benar terasa dalam pelaksanaan GFR 2026.

Kemal Ernanto bersama putranya, Kensi Atharizz Carnen, rela menempuh perjalanan jauh dari Makassar demi mengikuti rangkaian kegiatan GFR dan bertemu langsung para pemain Persebaya.

Kemal mengaku telah membawa dua jersey Persebaya untuk ditandatangani para pemain.

“Kami sebenarnya sudah dua pekan berada di Surabaya karena liburan sekolah. Saya dan anak sengaja datang untuk mengikuti acara fansign,” ujarnya.

Selain menjadi tempat mewujudkan impian para suporter, GFR juga menjadi ajang reuni bagi banyak peserta.

Salah satunya dialami Aris Fatkhur Rohman asal Pasuruan dan Indra Rubi Arko dari Surabaya. Keduanya merupakan sahabat lama yang dipertemukan oleh hobi mendaki gunung dan berlari.

Tahun ini mereka naik kelas dari kategori 5K ke 10K bersama sejumlah teman kuliah.

“Ada sekitar tujuh teman kuliah yang ikut lari. Mayoritas sekarang berprofesi sebagai guru dan tersebar di beberapa daerah,” kata Aris.

Keseruan juga dirasakan Lina Dewi Wijayanti dan Endah Sutjiningtyas, dua sahabat yang telah berteman lebih dari 40 tahun sejak duduk di bangku SMA.

Keduanya tergabung dalam komunitas Ikasmanca Runner, wadah para alumni SMAN 5 Surabaya yang aktif berolahraga.

Bagi mereka, mengikuti GFR bukan sekadar mengejar medali, melainkan menjaga kesehatan sekaligus mempererat silaturahmi.

“Yang ikut GFR tahun ini hampir 100 alumni SMAN 5 Surabaya di berbagai kategori. Lewat event seperti ini kami bisa bertemu teman-teman lama, jadi rasanya senang dan badan juga tetap sehat,” tutup Lina. (*)

Editor : Ery Supriyadi
#Surabaya Green Force Run 2026 #GFR 2026 #sport tourism Surabaya #persebaya #dbl indonesia