KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Sebuah prosesi akad nikah di Jakarta Selatan menjadi perhatian warganet setelah penghulu memimpin jalannya pernikahan menggunakan tiga bahasa sekaligus, yakni Indonesia, Inggris, dan Korea.
Peristiwa itu terjadi saat pasangan pengantin, Lisa Putri Erdiyanti, warga negara Indonesia, menikah dengan Lim Sang Beom, warga negara Korea Selatan, pada Sabtu (4/7). Video prosesi tersebut kemudian beredar luas di media sosial.
Penghulu yang memimpin akad adalah Muhammad Zidni Ilmi dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Setiabudi.
Baca Juga: Terbaru Kasus 3 Polisi Tewas di Katingan: Mabes Tangkap Robi dan Saldy, Dua Buronan Diburu
Di awal prosesi, ia menyampaikan salam serta ucapan selamat datang kepada keluarga mempelai pria menggunakan bahasa Korea sebelum melanjutkan acara dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Menurut Zidni, penggunaan bahasa Korea bukan permintaan dari kedua mempelai. Inisiatif itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga pengantin pria yang datang langsung dari Korea Selatan sekaligus memperkenalkan tata cara pernikahan Islam kepada para tamu asing.
Ia menjelaskan, pasangan pengantin hanya meminta agar prosesi akad menggunakan bahasa Indonesia dengan sedikit penjelasan dalam bahasa Inggris karena mempelai pria telah memahami kedua bahasa tersebut.
Zidni menambahkan, penggunaan bahasa asing saat memimpin akad nikah bukan pengalaman pertamanya.
Selama bertugas sebagai penghulu, ia beberapa kali memandu prosesi pernikahan pasangan beda kewarganegaraan dengan memakai berbagai bahasa sesuai asal keluarga mempelai.
Selain bahasa Inggris dan Korea, ia mengaku pernah menyampaikan pengantar akad menggunakan bahasa Arab, Jerman, Swahili dari Tanzania, hingga Prancis.
Bahkan, dalam sejumlah kesempatan, ia juga menyelipkan pantun maupun sapaan menggunakan bahasa daerah seperti Betawi, Jawa, Batak, Melayu, dan Aceh agar suasana akad terasa lebih hangat.
Baca Juga: Daftar Pemain dengan Kemenangan Terbanyak di Piala Dunia, Lionel Messi Makin Tak Terkejar
Zidni mengatakan kebiasaan menggunakan bahasa asing mulai lebih sering dilakukan sejak bertugas di KUA Setiabudi. Wilayah tersebut diketahui cukup banyak melayani pernikahan antara warga negara Indonesia dengan warga negara asing.
Pendekatan tersebut dinilai dapat membuat keluarga kedua mempelai merasa lebih dihargai selama prosesi berlangsung.
Editor : Uways Alqadrie