KALTIMPOST.ID, Anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno, memberikan catatan penting terkait rencana pemerintah mengekspor listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) ke Singapura. Ia menekankan bahwa proyek strategis ini tidak boleh mengorbankan kepentingan nasional. Menurutnya, pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat di dalam negeri wajib menjadi prioritas utama, di samping memastikan kerja sama bilateral tersebut memberikan keuntungan ekonomi yang riil bagi Indonesia.
Eddy memandang penjualan listrik ramah lingkungan ini sebagai langkah strategis untuk mendongkrak devisa negara. Selain itu, kolaborasi ini mempertegas peran penting Indonesia sebagai pemasok utama energi bersih di Asia Tenggara.
"Listrik yang dipasarkan bersumber dari energi terbarukan, khususnya tenaga surya. Potensi pendapatan negara dari proyek ini sangat menjanjikan karena harga beli yang ditawarkan Singapura terhitung lebih tinggi. Skema ini menguntungkan kita sekaligus membuktikan kapasitas Indonesia dalam mengekspor energi bersih," ujar Eddy Soeparno di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/7).
Lebih lanjut, legislator dari Fraksi PAN ini optimistis bahwa peluang ekspor tersebut akan memicu pertumbuhan proyek EBT lainnya di tanah air. Salah satu yang potensial adalah pemanfaatan energi panas bumi (geotermal), yang tidak hanya mampu menyasar pasar ekspor tetapi juga memperkokoh ketahanan energi nasional.
Ia menambahkan, masifnya pembangunan proyek-proyek energi bersih ini akan membawa dampak domino positif bagi perekonomian nasional, mulai dari terciptanya lapangan kerja ramah lingkungan (green jobs) hingga percepatan ekosistem industri hijau.
Meski memberikan lampu hijau, Eddy kembali menggarisbawahi komitmen pemerintah terhadap ketahanan energi dalam negeri. Ia melarang keras adanya aktivitas ekspor jika pasokan domestik belum berada di posisi aman dan optimal.
"Jangan sampai pemenuhan kebutuhan dalam negeri dikorbankan demi mengejar target ekspor. Pastikan dulu kebutuhan listrik nasional sudah aman dan terpenuhi secara merata, baru setelah itu kita fokus menggenjot penjualan ke luar negeri," tegas Eddy.
Di sisi lain, Eddy juga menyoroti aspek hilirisasi industri. Ia mendesak agar pengembangan infrastruktur energi bersih ini dibarengi dengan penguatan kapasitas manufaktur lokal. Tujuannya agar rantai pasok dan komponen yang digunakan tidak terus-menerus bergantung pada produk impor. Penguatan industri pendukung domestik dinilai akan membuat dampak ekonomi dari investasi ini jauh lebih terasa bagi masyarakat.
Sebagaimana diketahui, rencana ekspor ke Singapura ini bergulir setelah kedua negara menjajaki kerja sama pengiriman listrik rendah karbon guna mempercepat transisi energi regional. Kendati demikian, proses negosiasi masih berjalan dinamis, di mana salah satu fokus utama pembahasan adalah penentuan formula harga jual listrik agar menghasilkan keuntungan yang adil bagi kedua belah pihak.
Editor : Ilmidza