Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

11 Penyebab Bunuh Diri yang Kerap Diabaikan, Berkaca Kasus Direktur Keuangan yang Akhiri Hidupnya

Ilmidza • Sabtu, 18 Juli 2026 | 16:35 WIB
Ilustrasi penemuan mayat direktur keuangan di Jaksel.
Ilustrasi penemuan mayat direktur keuangan di Jaksel.

KALTIMPOST.ID, Kasus tragis yang menimpa seorang direktur keuangan sebuah perusahaan di kawasan Jakarta Selatan baru-baru ini menyentak publik. Peristiwa tersebut menjadi alarm keras bahwa badai mental bisa menerpa siapa saja, tak peduli seberapa mapan status sosial dan ekonominya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, tak kurang dari 703.000 orang di seluruh dunia menyudahi hidupnya setiap tahun.

​Umumnya, tindakan nekat ini dipicu oleh akumulasi beban hidup yang membuat seseorang merasa kehilangan harapan dan memandang jalan pintas sebagai satu-satunya resolusi.

​Menelisik lebih dalam, berikut 11 faktor utama yang kerap menjadi pemicu seseorang nekat mengakhiri hidupnya, berkaca dari beban psikologis yang kerap dihadapi masyarakat urban hingga kalangan profesional:

​1. Depresi Terselubung (High-Functioning Depression)
​Depresi tetap menjadi motor utama di balik tingginya angka bunuh diri. Sering kali, pada kalangan eksekutif seperti kasus di Jakarta Selatan, depresi ini bersifat terselubung. Di luar mereka tampak produktif dan sukses, namun di dalam menyimpan keputusasaan akut dan rasa lelah mental yang hebat karena merasa tidak ada yang benar-benar memahami mereka.

2. Beban Kerja Ekstrem dan Burnout
​Dunia korporasi modern menuntut performa tanpa celah. Jam kerja yang panjang, tekanan target yang tidak realistis, serta tanggung jawab profesional yang terlampau besar perlahan mengikis kesehatan mental, hingga mencapai titik jenuh ekstrem di mana akal sehat mulai lumpuh.

​3. Jeratan Krisis Finansial dan Gengsi Sosial
​Masalah keuangan bukan hanya soal kemiskinan. Bagi kalangan profesional, tanggung jawab mengelola keuangan makro atau kecemasan akan kebangkrutan bisnis memicu stres akut. Ketakutan akan jatuhnya reputasi sosial sering kali membuat dinding keputusasaan terasa makin tebal.

​4. Sengatan Perilaku Impulsif
​Spontanitas tanpa kendali menjadi sangat berbahaya jika berkelindan dengan pikiran negatif. Ketika seseorang dihadapkan pada satu titik masalah yang sangat menyakitkan secara mendadak, perilaku impulsif bisa mendorong mereka mengambil keputusan fatal hanya dalam hitungan detik.

​5. Retaknya Hubungan Sosial dan Isolasi Mandiri
​Konflik dalam rumah tangga, pengkhianatan oleh orang terdekat, hingga aksi perundungan (bullying) di lingkungan kerja maupun media sosial memicu rasa kesepian yang ekstrem. Korban sering kali merasa terisolasi dan menganggap dunia luar tak lagi aman.

​6. Ilusi Zat Adiktif dan Alkohol
​Pelarian keliru ke botol minuman keras atau obat-obatan terlarang justru mempercepat kerusakan mental. Konsumsi zat adiktif dalam dosis tinggi dapat memicu psikosis kondisi di mana seseorang mengalami delusi dan halusinasi, sehingga tak mampu lagi membedakan realitas dan dorongan destruktif.


​7. Kepungan Gangguan Mental Lainnya
​Studi ilmiah menunjukkan mayoritas pelaku bunuh diri mengidap setidaknya satu gangguan mental. Selain depresi, spektrum gangguan psikologis seperti bipolar, skizofrenia, PTSD (stres pascatrauma), hingga gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder) memiliki risiko kerentanan yang sangat tinggi.


​8. Belenggu Trauma Masa Lalu
​Luka masa kecil akibat kekerasan fisik, verbal, seksual, atau duka mendalam karena kehilangan orang tersayang yang tidak diselesaikan dengan baik, akan menetap di alam bawah sadar. Trauma yang terus menganga ini kerap menjelma menjadi bom waktu di usia dewasa.


​9. Keputusasaan Akibat Penyakit Kronis
​Rasa lelah fisik dan finansial karena harus bertarung melawan penyakit yang tak kunjung sembuh (seperti kanker, stroke, atau HIV) kerap merembet menjadi depresi berkepanjangan. Menurunnya kualitas hidup membuat sebagian orang merasa hidupnya sudah tidak lagi berguna.


​10. Stigma dan Tekanan Identitas Sosial
​Individu dengan orientasi seksual yang berbeda atau mereka yang terjebak dalam masalah sensitif (seperti kehamilan yang tidak diinginkan di luar nikah) sering kali dihadapkan pada sanksi sosial berupa pengucilan. Minimnya ruang aman dan dukungan moral membuat risiko bunuh diri meningkat tajam.


​11. Faktor Genetika dan Riwayat Kelam Keluarga
​Faktor biologis tidak boleh diabaikan. Seseorang yang memiliki garis keturunan atau anggota keluarga dengan riwayat bunuh diri memiliki kerentanan psikologis yang lebih tinggi. Riwayat ini menuntut manajemen stres yang jauh lebih ketat sejak dini.

Editor : Ilmidza
direktur keuangan tewas ditembak kasus bunuh diri